8:58 PM

Kunyalakan Senter di Ujung Terowongan

Posted by Anonymous |

Tulisan yang amat sangat
personal

Masa kegelapan, demikian saya menyebut masa-masa pencarian diri saya sebagai lesbian. Masa-masa ketika saya merasa jadi freak, masih bingung, dan ketika saya belum bisa berdamai dengan diri saya sebagai lesbian. Saya tidak tahu seberapa banyak teman yang mengalami hal semacam ini, tapi dari obrolan dengan beberapa teman lesbian, mereka kurang-lebih mengalami fase serupa. Bertahun-tahun saya berkubang dalam kegelapan saya, kadang sendiri, kadang berdua (kalau punya pacar), yang terkadang sama-sama kebingungan dalam kegelapan.

Dalam hal ini, salah satu upaya yang saya lakukan untuk mencari cara berdamai adalah mencari ilmu pengetahuan tentang dunia ini melalui media buku dan film, di antaranya. Dengan rakus saya melahap semua informasi yang ada tentang dunia homoseksual, terutama lesbian, mencari dan bertemu dengan teman-teman sehati, berusaha lebih memahami diri sendiri melalui berbagai sumber informasi yang ada, seperti buku, film, internet, dll.

Saya orang yang amat sangat ekstrovert, namun dalam hal ini saya menemukan perdamaian dalam diri saya sendirian. Dan saya yakin, banyak orang yang menemukan kedamaiannya dalam kesendirian. Lucunya, proses penerimaan diri sebagai lesbian serupa halnya ketika saya menemukan iman saya dalam agama. Melalui kontemplasi dan perenungan batin yang panjang hingga akhirnya saya menemukan pencerahan. Semua informasi yang yang saya peroleh tadi saya lahap dengan rakus dan saya cerna dalam hati, hingga akhirnya menjadi nutrisi untuk tubuh saya. Namun tetap saja semuanya kembali ke diri saya sendiri. Dan ternyata ketika proses perdamaian itu selesai, saya mendapati bahwa saya berutang pada banyak orang.

Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan jutaan terima kasih pada sahabat-sahabat lesbian dan terutama sahabat-sahabat hetero saya, yang selalu ada untuk saya setiap kali saya jatuh dan butuh papahan mereka. Menghabiskan malam-malam curhat lewat telepon atau menghabiskan bergelas-gelas kopi di kafe atau kedai warung indomi di dekat rel kereta favorit kami untuk mengisi perut dulu sebelum nongkrong ke kafe. Dan yang terutama, menjadi sahabat yang selalu menerima saya apa adanya. Bahkan saya pun perlu berterima kasih pada mantan-mantan saya, baik mantan cewek atau cowok saya, dalam hal ini.

Kini setelah saya melewati “masa-masa kegelapan” itu, saya terkadang lupa bahwa banyak orang lain yang masih berada di masa itu. Ada kalanya saya merasa pongah, merasa lebih baik daripada lesbian lain yang berada dalam masa kegelapan atau masih bingung. Termasuk partner saya. Setelah menjalin hubungan bertahun-tahun dengannya saya lupa bahwa dia juga masih butuh waktu untuk berdamai pada dirinya sendiri.

Seperti kacang yang lupa kulitnya, saya menepuk dada bangga dengan prestasi saya. Seperti orang gila yang berorasi sendirian, saya lupa. Lupa bahwa untuk mencapai titik damai saya sekarang saya membutuhkan bantuan banyak orang. Lupa pada uluran tangan sahabat, lupa pada telinga yang mendengarkan keluh-kesah saya, lupa pada tepukan di punggung saya yang membuat saya tenang.

Bahkan kepada partner pun, kadang-kadang kami tidak sepaham soal memandang dunia lesbian. Satu-dua kali pertengkaran terjadi karena saya sibuk dengan orasi saya yang secara tidak langsung menyatakan bahwa saya lebih baik daripada dia karena setidaknya saya sudah berhasil melewati masa kegelapan itu. Saya mengkritiknya habis-habisan karena tidak mengerti seperti apa bentuk cahaya di ujung terowongan sana, seperti apa keramaian di ujung terowongan yang terang benderang itu, sementara dia masih berjuang untuk keluar dari terowongannya sendiri, yang sepi, sunyi, gelap. Sendirian.

Mestinya saya mengulurkan tangan padanya, membuka telinga dan hati saya sebenar-benarnya untuknya.Tidak hanya untuk partner saya saja, tapi juga untuk semua lesbian di luar sana yang masih berkubang dalam kegelapannya sendiri. Dan menulis blog ini sekarang merupakan cara saya untuk mengingatkan diri agar tidak pongah dan sombong, dan masih punya banyak utang yang belum saya bayar.

Kadang-kadang pada malam hari, ketika melihat partner tertidur, saya ingin menciumnya, seperti saya sering mencium si baby kala tidur. Tapi saya takut dia terbangun. Maka melalui tulisan ini, saya ingin menciumnya dan membisikkan, “Say, mungkin aku lebih sering lupa, seperti halnya aku harus diingatkan terus untuk beli pepaya. Tapi ingatlah, aku selalu ada untukmu, menyalakan senter di ujung terowongan sana, berharap kau melihat cahayanya. Menunggumu keluar dari kegelapan.”

@Alex, RahasiaBulan, 2007

2 comments:

Anonymous said...

Huhuhu.... bacanya sampe terharu. Makasih ya Say udah nulis seperti ini. Nggak akan habis leher kita berdua saling bersitegang kalau lagi berdiskusi dan ngotot-ngototan. Muah... muah...

Anonymous said...

ak baru tadi siang buka blog ni...dan ak kembali buka blog ni sore ni..ak pernah rasakan pa yang alex rasakan waktu pasangan kita tidur..dan waktu tu ak berbisik ak akan menjagamu selamanya...

Subscribe