10:11 AM

Cinta Seharusnya Tidak Membuatmu Menangis

Posted by alex |

KDRT biasanya identik dengan kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri, lelaki terhadap perempuan. Padahal bisa saja kekerasan dilakukan perempuan terhadap lelaki, atau lelaki dengan lelaki, atau perempuan terhadap perempuan. Tidak semua kekerasan sifatnya secara fisik, ada yang namanya kekerasan secara mental. Kekerasan mental atau kadang-kadang dalam versi berbeda bisa disebut emotional blackmail inilah yang sering terjadi dalam hubungan cinta. Tidak hanya dalam hubungan antara lelaki-perempuan, hubungan lesbian pun tidak lepas dari kekerasan ini.

Pernahkah dalam suatu hubungan awalnya kau merasa dipuja bak putri lalu kau merasa terjebak dalam hubungan yang makin lama makin tidak sehat? Itulah salah satu petunjuk awal emotional blackmail. Sang pelaku pemeras emosi ini akan melakukan segala cara untuk mempertahankan sang korban agar tidak meninggalkannya. Pola-pola pelaku ada berbagai macam.Berikut ini adalah ilustrasi kata-kata yang digunakan para pelaku emotional blackmail yang pernah menimpa saya dan seorang sahabat saya yang hetero. Mungkin pelaku yang lain tidak menggunakan kata-kata yang sama, namun intinya biasanya kurang-lebih sama.

Pernahkah pasangan Anda mengatakan hal-hal seperti, “Tidak ada yang mencintaimu sebesar cintaku padamu.” (Kata-kata ini awalnya membuat yang mendengar merasa pasangannya romantis, tapi kemudian berlanjut ke sikap posesif berlebihan yang mengharuskanmu berbakti pada pasanganmu dan melaporkan keberadaanmu padanya sepanjang waktu).

“Aku bisa mati kalau kita berpisah.” (Dan dilanjutkan dengan ancaman bunuh diri, mulai dari minum racun atau mengiris nadinya di hadapanmu, hendak menabrakkan mobilnya, atau terjun dari gedung, atau tingkah-tingkah lainnya yang membuat kita ketakutan).

“Aku sudah melakukan segalanya untukmu, tapi kamu begitu egoisnya dan tidak peduli pada segala pengorbananku.” (Ini akan membuat si korban merasa tidak enak hati dan akhirnya terus mempertahankan hubungan karena tidak mau dianggap sebagai sosok egois).

Ada juga pelaku yang menggunakan guilty trap alias jebakan rasa bersalah dengan menjadikan diri mereka sebagai sosok korban. Misalnya dengan menjadi sosok tidak bahagia di rumah dengan orangtua yg tidak pernah menyayanginya. Mengaku sakit dan umurnya tidak lama lagi. Membuat hidupnya seolah-olah selalu berada dalam titik terendah, sehingga mau tidak mau kamu tidak tega meninggalkannya. Kata-kata yang mungkin digunakan si pelaku antara lain: “Aku benci orangtuaku karena mereka tidak peduli padaku.” Atau “Kamu tega ninggalin aku di saat sekarang aku lagi banyak masalah?” atau “Aku sudah menyerahkan keperawananku padamu, sekarang habis manis sepah dibuang?” Atau pelaku membuatmu merasa bersalah tidak mengirim SMS tentang keberadaanmu, atau membuatmu bersalah dengan keseringan mengirim SMS. Itu tadi hanya contoh singkat, masih banyak contoh jebakan rasa bersalah yang bisa dibuat pemeras terhadap diri korbannya.

Biasanya si pelaku ini memiliki topeng sosial yang amat baik. Sukses secara karier, pintar, berperilaku sempurna dan tanpa cacat di hadapan orang banyak. Hebatnya dalam beberapa kasus yang saya temui, pelaku biasanya bisa lolos psikotes perusahaan besar dengan lancar. Kenapa? Karena pelaku ini biasanya adalah seorang achiever, dia adalah tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkannya. Perusahaan besar biasanya suka tipe achiever seperti ini. Karena sosok sempurna itulah, saat hubungan putus kaulah yang akan disalahkan dalam putusnya hubungan. Dianggap perempuan tak tahu diuntung, bisa-bisanya melepaskan orang yang begitu sempurna. Oya, pelaku kekerasan ini biasanya tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarganya. Ini bisa kita ketahui dari cerita yang terlontar dari mulut pelaku sendiri.

Pada awal hubungan, sikapnya luar biasa baik/romantis sehingga kau dibutakan oleh segala manis gulali itu. Namun jika kau sudah pernah lepas dari hubungan tidak sehat semacam itu, kau pasti akan tahu bahwa instingmu dulu pernah memperingatkanmu. Dalam beberapa kasus mereka melakukan sejumlah tindakan drastis untuk membuktikan pengorbanan cintanya. Contohnya, si pelaku rela berhenti kerja agar bisa selalu dekat dengan korban. Atau memutuskan menolak beasiswa sekolah di luar negeri demi sang kekasih (Ini akan membuat korban merasa bersalah).

Si pelaku mencari cara untuk bisa terus berdekatan dengan korban, mungkin dengan pindah tempat tinggal atau bekerja di tempat yang dekat dengan korban. (Ini akan membuat pelaku bisa mengawasi korban sepanjang waktu). Biasanya pelaku akan memutus lingkup persahabatan si korban dengan memasang tembok tak kasatmata di sekeliling korban dan perlahan-lahan korban tidak punya teman lagi, selain teman-teman yang sudah di-approve oleh pelaku.

Si pelaku awalnya memanfaatkan rasa empati dan rasa iba kita melalui jebakan rasa bersalah saat si pelaku menempatkan diri sebagai korban. Jika dia tidak bisa lagi “memegang” si korban dengan cara halus, pelaku mulai menggunakan ancaman untuk mempertahankan si korban. Mulai dari ancaman menyakiti diri sendiri sampai ancaman teror kepada pasangannya. Dan mulailah babak baru kekerasan dalam hubungan yang mungkin menjurus pada kekerasan fisik.

Untungnya, saya dan sahabat saya akhirnya berhasil keluar juga dari hubungan yang tidak sehat itu walaupun hati kami hancur lebur biru lebam dikoyak cinta yang menyakitkan. Kami saling curhat dan berkata, "We've been to hell and back." Berhubung kami pecinta buku, salah satu kesamaan kami adalah menyadarkan diri kami melalui literatur. Mata kami jadi lebih terbuka karena kami membaca sosok-sosok korban lain dalam buku yang kami baca. Saya tersadar ketika membaca Rosemadder karya Stephen King. Sahabat saya tersadar ketika membaca Love Me Better karya Rosalind B. Penfold, dan kami mulai saling sharing sehabis membaca The Guardian - Nicholas Sparks.

Jika kau sekarang merasa menjadi korban, segeralah keluar dari hubungan yang tidak sehat itu. Keluarlah selagi bisa, cari dukungan dari teman-teman dekatmu atau orangtuamu. Percayalah, masih ada orang di luar sana yg layak mendapatkan cintamu. Dan percayalah bahwa dirimu begitu berharga untuk dicintai secara sehat. Jangan bersikap sok heroik dengan berusaha menolong si pelaku dari derita, segala yang terjadi pada si pelaku itu bukan salahmu. Ingatlah, ada batas antara romantisme yang sehat dan romantisme yang membabibuta. Cinta seharusnya membebaskan dan membuatmu tersenyum bukan membuatmu terperangkap dan menangis.

@Alex,RahasiaBulan, 2007

6 comments:

Anonymous said...

At the lowest point of my life, saya pernah merasa harus bertanggung jawab atas hidupnya, kesejahteraannya, kebahagiaannya. Belakangan saya tahu bahwa saya gak harus bertanggung jawab atas hidup orang lain. Cuma kalimat itu yang saya ulang2 spt mantra untuk lepas-pas-pas dari emotional abuser kayak begini.

Anonymous said...

gak nyambung sih, tapi, try Yeogo Goedam 2 : Memento Mori. udah di review?

alex said...

Buat anonymous 1, setuju banget! emotional abuser, terutama yg tipe loser membuat kita hrs terus2an merasa bertanggung jawab sama hidupnya.

buat anonymous 2, Memento Mori blm di-review. gue udah nonton lama sih, nanti deh gue review. Lumayan kok, nggak jelek tp nggak bagus jg.

Yue said...

Alex, Lakshmi, salam kenal.
Artikel ini sangat mengena di hati saya. Bukan karena saya pernah menjadi "korban", tetapi lebih karena saya hampir bisa dikatakan sebagai calon "pelaku".

Sekedar sharing, kisah bermula ketika saya bertemu dengan seseorang sekitar 8 tahun yang lalu ketika kami sama-sama menjadi mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi. Di awal perjumpaan , saya hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Namun lama kelamaan mulai timbul perasaan lain.. saya mulai menyukainya. Singkat cerita, setelah berbagai aksi PDKT yang saya lakukan, kami pun menjadi sahabat yang sangat akrab. Sampai saat ini saya tidak berani mengungkapkan perasaan saya padanya karena saya takut dia akan meninggalkan saya (dan kelihatannya dia seorang hetero). Setiap hari kami saling berkirim sms, minimal satu kali dalam seminggu saya meneleponnya, dan seringkali saya pun mengantarnya pulang ke rumahnya yang jaraknya lumayan jauh. Saya memujanya dan memperlakukannya bak putri (seperti yang ditulis Alex dalam artikel ini).

Selama 7 tahun pertama, semuanya terasa begitu indah. Saya menikmati kedekatan kami. Setiap kali bertemu dengannya, rasanya saya dapat menjadi diri saya sendiri; saya bebas mengungkapkan segenap suka dan duka yang saya rasakan (saya tergolong introvert dan jarang bercerita kepada orang lain). O ya, keluarga saya pun bisa dikatakan tidak terlalu harmonis (lagi-lagi seperti yang tertulis dalam artikel ini). Perselisihan dalam keluarga sudah menjadi santapan sehari-hari sejak saya duduk di bangku SMP.

Hubungan kami yang akrab ini mulai terganggu dengan hadirnya seorang lelaki yang menggetarkan hatinya. Dia mulai jarang sms saya dengan alasan tidak punya pulsa. Telepon dari saya pun tidak dijawab karena dia sedang sibuk bertelepon ria dengan kekasih barunya. Yang saya dengar hanyalah penjawab otomatis yang berbunyi "Silakan menunggu sebentar, telepon yang anda hubungi sedang sibuk" lalu dilanjutkan nada "tuut... tuut.." Saya kecewa sekali padanya. Kami mulai bertengkar (padahal selama 7 tahun kami tidak pernah berselisih, apalagi bertengkar).

Saya memang tidak mengatakan "Tidak ada yang mencintaimu sebesar cintaku padamu." ataupun "Aku bisa mati kalau kita berpisah." ataupun tindakan ancaman fisik lainnya. Yang saya lakukan lebih mengarah kepada 'guilty trap': "Kamu tega ninggalin aku di saat sekarang aku lagi banyak masalah?" Pernah suatu ketika karena sms dan telepon saya dijawab, akhirnya saya membanjirinya dengan sms retoris "Take care" atau "Have a nice day" berkali-kali dalam sehari untuk membuatnya merasa bersalah. (lagi-lagi sesuai dengan artikel ini)

Hal lain yang menunjukkan bahwa saya bisa dikategorikan sebagai "pelaku" adalah saya cenderung bertipe "achiever". Meskipun saya tidak menghalalkan segala cara yang saya inginkan, setidaknya saya pernah lolos psikotes di beberapa perusahaan besar (bukan maksudnya menyombongkan diri, namun saya sedang mencari-cari apa yang ada pada saya sehingga saya bisa menjadi sekejam ini dengan menjadi pelaku emotional blackmail, dengan harapan, setelah ini, saya bisa memperbaiki diri saya).

Anyway, setelah membaca artikel ini, saya tersadar bahwa yang saya lakukan salah. Kalau memang saya mencintainya, seharusnya saya tidak menyusahkannya, apalagi membuatnya menangis. Biarlah saya saja yang menangis.. Kalau memang dia bahagia dengan lelaki itu, seharusnya saya juga berbahagia untuknya.. meskipun itu artinya saya tidak bisa mengiriminya sms mesra ataupun meneleponnya, apalagi menemuinya.. Memang hati saya sakit, pedih, terluka, hingga berdarah-darah.. Tapi biarlah saya saja yang menanggungnya.. sebagai tebusan karena saya pernah menyusahkannya dengan keegoisan saya.. Sejauh ini dia satu-satunya orang yang bisa meluluhkan hati saya. Saya pertama kali merasakan jatuh cinta padanya dan dengannya pula saya merasakan patah hati.. Tapi rasanya saya tidak bisa mencintai orang lain selain dia.. Biarlah kepedihan yang saya rasakan menjadi cambuk bagi saya untuk mencintainya dengan tulus.. Cinta tidak harus memiliki.. Yang bisa saya lakukan hanyalah menunggunya.. Menunggu sms darinya, ataupun telepon darinya.. Meskipun dia tidak kunjung mengirim sms ataupun menelepon, saya akan tetap menunggu..

To Alex, thanks ya untuk artikel yang sangat bermanfaat ini.. Saya merasa mendapatkan tamparan seribu meteor yang jatuh menghujam di wajah saya.. Sungguh sangat mengena.. Saya sangat bersyukur karena disadarkan sebelum keadaan semakin memburuk.. Sebelum saya melukainya lebih dalam lagi.. Lebih baik saya saja yang terluka..

Mohon tanggapan atas sharing saya ini, karena yang tertulis di artikel ini adalah dari sisi "korban". Saya ingin tahu apa yang "korban" inginkan untuk diperbuat si "pelaku" untuk masa depan yang lebih baik. Terlebih, saya tidak mau menjadi "pelaku" sungguhan.

Sorry comment-nya kepanjangan, maklum deh saya masih dalam tahap pencarian jati diri. Sebelumnya saya pernah post comment ini di SepociKopi tapi karena sampai saat ini masih belum ada tanggapan, jadi saya post ulang di blog ini, gpp ya Lex? Salam kenal dan mohon petunjuknya..

Kalaupun comment ini tidak dimuat, pls reply to my email:
tsukikage0309@yahoo.com

Thanks.
Yue

alex said...

dear Yue, salam kenal ya
duh, panjang ya komennya... :) ngobrol via japri aja yuk. di alex58id@yahoo.com

Anonymous said...

Hi Lex...Salam kenal ya

Gimana kalo KDRT itu justru terjadi sama partner kita karena dia masih milik husband'nya? Scary, isn't it? That's what currently happens to my beloved lover & I can do nothing to help her, though I'm dying to kill him by my own hand. I can take her away to the place where her husband will never be able to find her. She just doesn't want us to choose that way to save her life & our love. Even though I can keep saying ..."Things like this cannot go on!"..,but nothing we can do, except waiting for God's help...don't know when?...

Rafi

Subscribe