1:38 PM

Come Out, Come Out Wherever You Are

Posted by alex |

Seorang selebriti pernah ditanya dalam suatu wawancara radio oleh penelepon. “Mbak, apakah mbak lesbian?”
Dug! Saya hampir jatuh dari kursi mendengar pertanyaan itu. Untungnya si mas penyiar radio tersebut dengan cerdas mengalihkan pertanyaan itu dengan menjawab secara bercanda, “Duh, Mas, kok nanya kayak gitu sih? Yang jelas lesbian itu saya. Karena saya pecinta wanita.”

Saya mengenal sang selebriti secara pribadi dan dia merupakan sosok yang dihormati, baik hati, dan ramah. Jujur, ketika pertama kali bertemu dengannya saya juga mengajukan pertanyaan yang sama, namun bedanya saya hanya mengajukan pertanyaan itu dalam hati. Setelah mengenal pribadi beliau lebih jauh daripada sosok yang ditampilkannya sebagai selebriti, pemikiran apakah dia lesbian atau tidak sudah tidak penting lagi.

Pernah juga sewaktu di Bali, bersama seorang sahabat perempuan, dan seorang selebriti lelaki kami mengunjungi kelab yang sering jadi tempat hangout gay di Bali. Saat sedang santai, kami didatangi seorang lelaki yang menyapa sahabat selebriti saya. “Mas X ya? Wah, nggak nyangka ketemu Mas di sini.” Lalu lelaki itu mengaku sebagai wartawan dan mengeluarkan kartu nama sebuah media dan ingin mewawancarai si Mas X itu jika ada waktu di Bali. Kami bertiga nyaris menahan napas bersamaan mengetahui lelaki itu wartawan... Namun untungnya si mas wartawan itu menghargai privasi sahabat selebriti saya itu dengan tidak mengajukan pertanyaan bodoh, “Mas gay ya karena mas hang out di sini?” Dengan bertemunya kami di kelab itu sudah ada pernyataan “I know you, you know me.” lah.

Majalah Out edisi Mei 2007, menampilkan cover Jodie Foster dan Anderson Cooper--jurnalis TV yang bekerja di CNN, dan memasukkan mereka dalam daftar "50 The Most Powerful Gay Men and Women in America." Yang jadi masalah adalah Jodie Foster dan Anderson Cooper tidak pernah mengklaim diri sebagai gay/lesbian, meskipun mereka juga tidak menyangkalnya. Edisi Out ini menimbulkan pro-kontra tentang seberapa jauh media boleh mempublikasikan orientasi seksual seseorang.

cover from www.out.com

Bahkan di Amerika pun yang konon dikenal sebagai negara mahabebas, orang tidak bisa begitu saya meng-outed seseorang kalau tidak mau dituntut balik oleh si selebriti. Hak untuk coming out ada di tangan si selebriti sendiri, bukan di tangan publik. Silakan saja paparazi atau wartawan tabloid mengejar dan berspekulasi, dan si selebriti juga berhak untuk tutup mulut.

Yeah, memang kita biasa ketemu dengan sesama teman dan bergosip tentang seleb mana yang gay/lesbian. Namun pertanyaan pentingnya adalah seberapa jauh gosip itu bisa disebarluaskan? Apalagi di dunia maya, ketika orang bisa saja memasang foto atau menyebarkan informasi atau bergosip tentang siapa yang gay/lesbian, seperti yang baru-baru ini terjadi pada Bertrand Antolin dan Indra Brugman ketika foto dan gosip tentang mereka beredar di internet.

Tidak mudah bagi selebriti/tokoh publik yang juga gay/lesbian untuk mengungkapkan orientasi seksualnya. Apalagi di Indonesia. Selain teror yang mungkin menimpa mereka, kemerosotan karier kemungkinan besar menanti di masa depan. Tidak mudah memang. Paling-paling kita tahu sama tahu sajalah, jika dari penampilan fisik sudah keliatan jelas tanpa perlu dipertanyakan lagi.

Jangan salahkan selebriti jika mereka tidak mau coming out. Maklum, publik di sini amat garang untuk urusan begini. Jangankan ketauan sebagai gay/lesbian, sering berperan sebagai tokoh antagonis aja bisa digampar orang di jalan. Berpose di majalah Playboy aja bisa jadi berurusan sama polisi. Yah, jelas tidak ada yang mau jadi martir. Biarlah omongan selebriti/tokoh publik mana yang gay/lesbian hanya jadi omongan private. Kadang-kadang ada panggilan yang lebih tinggi dalam hidup ini selain mendiskusikan siapa pacaran sama siapa, hanya demi kepentingan kolom gosip.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

0 comments:

Subscribe