7:28 PM

Perjuangan yang Membutakan

Posted by Anonymous |

Tulisan ini sudah lama terkatung-katung karena saya patah hati minggu lalu. Berkat dukungan teman-teman semua, kini saya merasa dunia tidaklah sesuram gua gelap seperti di film The Descent. :p

Beberapa minggu lalu saya menonton film berjudul Titanic Town di layar televisi. Ceritanya tentang seorang ibu yang jadi aktivis di kota kecil di Irlandia Utara. Si itu berjuang untuk menghentikan pertikaian antara Inggris dan Irlandia. Walaupun sudah diwanti-wanti agar tidak terlalu vokal, akhirnya si ibu ini malah jadi aktivis yang melakukan kampanye besar-besaran menentang perang antara IRA dan Inggris hingga masuk TV dan koran lalu si ibu itu jadi terkenal. Kemudian anak-anak dan suaminya mendapat ancaman dan teror, rumahnya jadi sasaran pengrusakan, dan keluarganya hidup dalam ketakutan.

Ketika saya menontonnya, saya kasihan dan kesan pada si ibu. Layak nggak sih berjuang sampai sejauh itu? Memang sih nasib ibu itu tidak semalang perempuan yang anaknya diculik, lalu diperkosa dan dibunuh di depan matanya dalam film Imagining Argentina. Ibu itu yang diperankan oleh Emma Thompson adalah pejuang tangguh menghadapi represi pemerintah. Tapi bagi saya, kedua ibu ini adalah ibu egois yang hanya mementingkan diri sendiri.

Apa sih sebenarnya yang mendorong mereka berjuang? Alasan yang mereka pakai adalah mereka berjuang demi masa depan anak-anak mereka agar bisa hidup lebih baik. Yeah, right. Whatever deh.

Di mata saya mereka berjuang karena perjuangan membawa kemahsyuran. Kemasyuran yang berubah jadi candu. Dan membuat buta. Kadang-kadang orang jadi tidak melihat sisi lain karena terlalu fokus pada perjuangan. Mereka marah saat orang-orang tidak ikut berjuang. Merasa dunia seharusnya berputar di sekitar mereka. Mempertanyakan kenapa orang tidak ikut berjuang bersama mereka. Dan yang paling miris, mereka membuat orang-orang yang dekat dengan mereka sebagai korban.

Yeah, kadang-kadang perjuangan itu menghasilkan kemenangan sesaat, tapi dengan harga yang mahal. Anak perempuan dalam Imagining Argentina mati mengenaskan. Anak lelaki dalam Titanic Town kepalanya bocor hingga nyaris mati. Yang lebih miris, perjuangan mereka dimanfaatkan, dijadikan kendaraan politik oleh oknum-oknum politisi atau mereka yang ingin mencari nama dan uang. Pejuang-pejuang itu cuma dijadikan pion tidak penting yang bisa dikorbankan.

Jadi kita tidak harus berjuang? Tidak juga. Berjuanglah secara cerdas. Jangan pernah jadi martir. Jangan pernah berpikir bahwa berjuang sama artinya dengan mengorbankan diri. Saat kau mati, kau mati. Saat keluargamu hidup dalam ketakutan karena teror, kau jadi orang yang bertanggung jawab sebagai penyebabnya. Tidak ada perjuangan yang terlalu penting hingga harus membuat orang-orang di dekatmu menderita.

Yang lebih ironis lagi, setelah kau mati-matian berjuang kau harus pergi dari tempat yang kauperjuangkan karena kau ternyata menciptakan lebih banyak musuh. Lupakan perjuangan, kecuali kau tahu kau akan menang. Segala sesuatu akan terjadi jika waktunya pas. Matahari akan terbit saat fajar. Bintang bersinar di malam hari.

Saya lupa siapa, tapi ada yang pernah bilang bahwa coming out sebagai lesbian adalah suatu bentuk perjuangan kita sebagai lesbian. Rahang saya sampai nyaris copot mendengar komentar itu. Yang lebih bodoh lagi adalah ajakan/hasutan untuk coming out. Saya yakin, tanpa diajak pun, setiap lesbian merasakan kegelisahan untuk out.

Been there, done that.

Saya melewati masa muda yang penuh kegelisahan. Rasanya saya ingin menjerit di puncak gunung tertingi dan menyatakan diri sebagai lesbian. Mengaku kepada ibu saya tinggal seujung kuku lagi ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Tapi saya tidak melakukannya ketika saya masih muda dulu, walaupun hati saya sakit karena harus memendam perasaan. Ya, akhirnya memang saya out ketika saya merasa waktunya tepat dan orang-orang pasti bisa menerima kelesbianan saya. Saya tidak mau jadi pecundang yang cuma bisa mengaku lesbian dan menjadikan lesbian sebagai identitas. Meminjam istilah Nagabonar, Apa kata dunia?

Ada orang yang sepenuhnya in the closet. Ada yang memilih out di kalangan sesama lesbian. Ada yang memilih out di lingkungan kerja saja. ada orang yang memilih out di lingkungan keluarga saja. Ada orang yang sebegitu out-nya sehingga identitasnya cuma si anu yang lesbian. Itu semua hak masing-masing. Terserah di mana letak kenyamanan orang tersebut. Apa yang bagus buatmu belum tentu bagus buat orang lain. Kau tidak pernah bisa menempatkan hidupmu dan penerimaan terhadap dirimu terhadap diri orang lain.

Sebagaimana cerita di atas, jika kau tidak tahan lagi dan ingin out, lakukan secara cerdas. Janganlah melakukannya dengan membabibuta apalagi karena menuruti emosi/amarah. Atau kau melihat si A melakukannya dan tampaknya cool atau ditekan oleh pasangan untuk melakukannya. Lakukan dengan penuh pertimbangan, paling tidak yang bisa kauprediksi bahwa kira-kira orang yang mendengar ceritamu akan bisa mendukungmu. Saya memilih out kepada orang-orang yang sudah saya kenal baik dan tidak kepada keluarga.

Beberapa hari yang lalu ibu saya bilang, “Kamu tuh anak yang baik.” DUK. Secara ibu saya bukan tipe memuji, saya langsung cemas. Dan dengan tatapan gundah, saya balik bertanya, “Mama nggak kenapa-napa, kan?”
Ibu saya malah ketawa terbahak-bahak. “Masa nggak boleh memuji anak sendiri?”

Saya tidak pernah out pada ibu atau keluarga besar saya, karena saya tahu karakter ibu saya yang memilih untuk “Don’t ask don’t tell.” Dia memilih diam dan menerima keadaan saya yang sejak kuliah sering membawa “teman perempuan” ke kamar (kamar saya letaknya persis di sebelah kamar ibu saya yang cuma dibatasi tripleks, jadi bayangkan sendiri deh :p), plus mengajak teman perempuan menginap di rumah, plus pernah tinggal di kos bareng bersama “teman perempuan” dengan ranjang yang kata ibu saya, “Terlalu sempit untuk berdua”. Saya rasa membahas orientasi seksual saya adalah penghinaan buat kecerdasan ibu saya. Kemudian ibu saya memotong lamunan saya dan berkata, “Mami lagi banyak duit nih. Gimana kalau hari Minggu kita makan siang di luar? Oya, jangan lupa ajak Lakhsmi sekalian.”

Ah, mendadak saya teringat tulisan entah di mana, "We’re happy, we’re gay." Tolong jangan buat saya merasa bersalah karena merasa bahagia.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

6 comments:

Anonymous said...

Welcome back Al, it’s really nice to see you back with the spirit of life :)...
It’s terrible story, I haven’t watched it yet. I would like to, someday…
Those two moms are selfish? Well, I don’t think so.
If you think the reason they’re struggling for is to make their children life better is not the right thing, so what they suppose to struggle for?
While they struggle for what they believe they endanger the people surrounding, I think it just one of the consequences as well as the fame. Belief and faith, are something absurd, we can’t judge it is right or wrong. We can’t force them to think or to do just what we do.
For me, the struggle means the trial to prove our belief is right. Struggling doesn’t mean that we have to beat the other’s belief. Let them have their own space and prove what they think is right, while we are doing the same. The real struggler will not get upset or feel down just because the people are not struggling with them. They don’t need follower, they keep fighting with or without other’s support come what may, since they’re proving what they believe, not the others own.

Temporary victory… How can you say that? There is no temporary victory Al. Victory is the outcome of the struggle. How small the changes that you’ve made, it still worthy. There is no half step; still it is counted as a single step every time you move your feet. There is no useless struggle.

Don’t ever being a martyr? Yup, I absolutely agree with you. Being a martyr is not struggling, It suicidal action. To die is not the purpose of struggle. Keep yourself alive and keep your belief and faith as long as you can. Make better changes as much as possible. You will not be able to do anything when you die. Please don’t decide to die so soon.

Alex, we are not struggling to win. I think it’s different. When you decide to struggle what you think is right, you wouldn’t think that you’ll win or lose, that’s not the purpose of struggling. Everything has its own time to happen. That’s right. But when do we know the right time? Shall we wait and hold it back until finally we realize that we are no longer have enough time to do it and our decision let us down at the end?

Coming out as a lesbian?
Does coming out mean that we should declare or confess that we’re lesbian? Because if it so, I don’t see or maybe I can’t see the necessity of coming out. Don’t ask and. don’t tell. Let people believe what they want to believe (love this quote).

Finally, I apologize for this babbling. It is easier to say than act, known exactly ‘bout that. I might be either wrong or right. Please, don’t take this too hard.

russky said...

yah..pejuang yang kayak gitu siy berjuang untuk dirinya sendiri..yang penting saya senang itu namanya
sama seperti lesbian yang 'memaksa' lesbian lain ato bi untuk coming out.mereka jelas hanya memikirkan diri sendiri dan kepentingannya.."yang penting tujuan gw tercapai.orang pada tau keadaan gw.sebodo amat ma orang laen"
dengan mereka sembarangan come out,,mereka sudah mengabaikan perasaan orang yang sebenernya sayang sama mereka bahkan menumpukan harapan kepada mereka..
sama seperti ibu2 pejuang tadi. keinginan berjuang sudah terkontaminasi dengan keinginan untuk 'diakui sebagai pejuang' yang membuat mereka mengabaikan orang2 sekelilingnya

maap kepanjangan hehe

Truth Hurts said...

Dear Kak Alex...
Nice to see you back on your feet again... :)
Anyway, cuma ingin bilang kalo aku setuju sama apa yang dikatakan Joel. Mungkin kalau Kartini dulu tidak melakukan apa yang dia lakukan, perempuan sampai sekarang masih dilarang bersekolah di Indonesia... :)
Seperti yang pernah aku tulis di blog Mbak Laksmi, mungkin efek dari perjuangan itu baru bisa kita rasakan 10, 20 bahkan 50 tahun dari sekarang. But at least they made a move, and have the courage to stand up for what they believe in...
Everybody have their own way to fight. Bahkan apa yang Kak Alex dan Mbak Lakhsmi lakukan juga merupakan suatu bentuk perjuangan. Ada yang memilih di belakang layar, tapi harus ada juga yang berani untuk berjuang secara terbuka. Selama perjuangan itu tulus, aku rasa gak ada yang dapat disalahkan.

-Abelle-

Anonymous said...

Halo Lex, salam buat Lax ya. Tulisan yang bagus, aku setuju banget!! Nggak ada yang pernah nulis kayak gini. Aku ngerti apa yang kamu maksud, the "it" factor. Cuekin aja omongan orang, yang nggak ngerti point kamu. Pokoknya, terus nulis yang kayak gini. Aku mendukung!

Ryou said...

This is just my opinion, but if we're always THAT careful, so we gays shouldn't have children at all, because like it or not, our children will face a lot of discrimination JUST because they're our children. Yeah, we've got to be smart in our struggle, but like Xena said, maybe the greatest wrong is never to fight at all. I'd like to think about the long term instead of what could happen now. If I come out to my family now (I won't, but just an example) maybe our relationship would suffer, but in the long term we can talk and forgive each other and all. If I don't, what if someday they find out by accident? That'll hurt more and the process to acceptance will be much longer. I guess what I mean is simply 'Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.' But I agree on the thinking smart and not being a martyr thing.

Anonymous said...

Alex
'Coming out'... a hot topic ever in gay world. If you ask me, it's only for those who don't have self confidence. They think after coming out things will be better and easier. They think only after making the announcement of being gay they will live peacefully. O, what a thought! I have never had the intention of coming out. I have been around, as I'm not young anymore. And I can tell you this, Alex, I have never had the urge of letting the world know that I'm gay. Yet, I can enjoy my life to the fullest! True, I have to pretend all the times. But that's the risk that I've already been used to since I knew that I am 'special', since I knew I like woman and not man, ... and that was some decades ago! Ah, I can chat all night long about my journey, Lex. But, for the time being, I'm happy to have found your blog. I'll talk to you again some other time. Kind regards to your Lakshmi.

Best,
Juno

Subscribe