12:24 PM

That's What Friends are For

Posted by alex |

Pernahkah kau baru bertemu dengan seseorang tapi kau tahu dia akan jadi sahabatmu? Seakan ada bunyi “klik” dalam otakmu ketika kalian menghabiskan waktu bersama. Kami bertemu dalam probabilitas waktu dan tempat yang tak terpikirkan. Lewat jutaan huruf dalam ketikan keyboard, dalam dunia maya yang awalnya dimulai dengan nama palsu. Dari dunia di balik monitor, kami bertemu dan mendapatkan “klik” itu ketika kemayaan tersebut runtuh dan berganti dengan realitas.

Saya tidak punya banyak sahabat dekat dalam dunia lesbian. Bukan, bukan karena saya tidak bergaul atau apa. Tapi jujur saja, kalau saya mengedarkan diri di komunitas, biasanya saya cuma cari pacar. Jadi sahabat-sahabat saya (dulu) kebanyakan orang-orang yang pernah dekat dengan saya. Kini izinkan saya bercerita tentang dua sahabat baru saya.

Meminjam pernyataan dalam blog JejakArtemis. Sahabat menyusup masuk. Begitu lembut, bagai kuntum bunga yang luruh. Mengalir, bagai angin. Senyap, bagai udara. Tahu-tahu dia akan hadir begitu saja. Sebut saja namanya J. Pada dirinya saya seakan menemukan cermin diri. Orang yang memiliki vibrasi otak yang sama dengan saya. Seseorang yang sebenarnya tidak perlu mengaku cool dan keren karena pada kenyataannya dia memang begitu. :p

Kami menjadi dekat dalam dunia realitas di mana ID yang ada hanyalah KTP, SIM, atau Paspor. Statusnya yang selibat dan status saya yang terlibat membuat kami---dua anak nakal---ini kadang-kadang merasa terlalu aman dan nyaman. Hingga jadilah kami dua anak nakal yang kena batunya. Ada godaan teramat besar dalam diri saya untuk menaklukkan keselibatannya. Dan jika kautanya apakah saya menyerah pada godaan?

Ya, saya nyaris terpeleset, tapi untuk pertama kalinya saya tidak menyerah. J pun tidak. Anehnya, kedekatan kami malah saling menguatkan keselibatannya dan keterlibatan saya. Yeah, yeah, yang kenal saya pasti ketawa secara saya bajingan dan ratu bokis. Terserah mau percaya atau tidak. Seperti yang saya nyatakan pada sahabat saya yang lain, D, “Kalau gue sampai tidur dengan J, gue akan merasa sangat berdosa. Gue membayangkan sehabis melakukannya tanah terbelah dan gue langsung ditarik masuk neraka.” Selain daripada itu, saya tidak ingin menyakiti partner karena tidak ada seorang pun yang layak menggantikannya. Partner dan anak-anak. Empat tahun kami bersama. Terlalu mahal harga yang harus dibayar demi kenikmatan sesaat. Terlalu sayang untuk menodai persahabatan yang tulus dengan urusan seks.

Bersama J dan D (yang ternyata tidak semenyeramkan yang saya kira) kami menjalin hubungan persahabatan yang langka. Langka karena dalam dunia persahabatan lesbian, saling rebut pacar adalah makanan paginya, saling menjelekkan adalah makan siang, dan menikam dari belakang adalah makan malamnya. Sementara, sejauh ini kami, eh, saya, merasa kami tulus terhadap satu sama lain. Kami menjadi tong sampah satu sama lain. Kami mendukung sahabat lain yang ditinggal kawin kekasih perempuannya. Kami saling menjadi wanita penghibur terhadap satu sama lain dalam jam-jam ngantuk di kantor ketika gelas kopi ketiga tidak sanggup mengalahkannya.

Tadi malam adalah malam terpanjang selama empat tahun belakangan ini. Shit happens! Dan saya mencari perlindungan dan dukungan dalam diri sahabat-sahabat baru saya ketika semua tahi berterbangan tertiup kipas angin. Orang pertama yang saya hubungi adalah J, menghabiskan dua jam lebih lewat telepon dalam curhat yang penuh emosi yang kemudian berubah menjadi tawa ketika kenarsisannya malah menghabiskan setengah dari waktu curhat.

Menjelang curhat dengan J berakhir, D mengirim SMS yang menyatakan kekuatirannya pada diri saya. Dan jadilah saya berpindah ke D untuk curhat sesi 2. Dengan sabar dia mendengarkan cerocosan saya yang laksana petasan banting. Ah, curhatnya terlalu panjang untuk saya ceritakan di sini dan saya terlalu lelah untuk mengulangnya.

Buat saya kekayaan terbesar adalah ketika kau memiliki sahabat-sahabat yang baik. Sahabat-sahabat yang tidak mendorongmu ke lembah nista, tapi mengangkatmu ketika kau jatuh. Mendampingimu dalam tawa bahagia atau tangis sedih. Dalam realisasinya, sahabat adalah orang menemanimu ke karaoke ketika kau ingin bernyanyi melupakan kesedihanmu karena ditinggal kawin kekasihmu. Membelikanmu handsfree saat kau butuh. Mendengarkan curhat yang sama berkali-kali yang hingga kau pun bosan mengulangnya lagi.

Dalam perjalanan hidup hingga rambut saya mulai beruban dan rasanya tahun depan saya mulai butuh kacamata plus, saya menemukan banyak sahabat. Namun tidak banyak yang menjadi Soulmates saya dalam persahabatan. Orang-orang yang punya vibrasi otak yang sama, orang-orang yang membunyikan “klik” dalam otak saya. Orang-orang berharga yang membuat saya ingin bertanya, “Pernahkah kau baru bertemu dengan seseorang, tapi kau tahu dia akan jadi sahabatmu?”

@Alex, RahasiaBulan, 2007

3 comments:

AJ's Lover said...

gue udah kenyang dalam memamah persahabatan baik di dunia maya maupun nyata, pun dunia maya yang lantas menjadi nyata.

sekarang gue nggak gitu 'adiktif' terhadap persahabatan, karena sahabat datang dan pergi, yang terpenting gue yakin selalu ada yang hadir di saat gue butuh teman, meskipun yang hadir itu bukanlah yang gue inginkan tapi gue terima sebagai aturan dari semesta.

Joel said...

Best friends........
The most important things in ma life, as well as ma family and money. I need them to share ma happiness and sadness. I need them when get angry or upset to calm me down. But the most important role of friends to me is to support and justify ma decisions. That's what friends for.

Red said...

..semua orang memang butuh orang lain untuk berbagi.. beruntunglah bagi mereka yang menjadi sahabat bagi orang lain & memilikinya.

ehmm.. bagi saya berhati2 menganggap seseorang itu sahabat jauh lebih baik, krn sahabat yang berhianat jauh lebih sakit dari tindakan musuh..(jadi dalam begini ngomongnya hehe )

Subscribe