“Jeng seperti apa sih perasaan lesbian?”
“Ya, sama seperti perasaan manusia pada umumnya, nggak ada bedanya.”
“Beda nggak sih perasaannya dengan perasaan cewe hetero?”
“Sama aja tuh. Sama seperti perasaan kamu ketika naksir laki-laki. Perasaan cinta lesbian nggak lebih besar atau lebih kecil dibanding perasaan perempuan hetero yang jatuh cinta sama laki-laki.”

Saya bertemu dengan sahabat perempuan yang selama ini menganggap dirinya sebagai perempuan yang secara orientasi seksual masuk kategori Questioning. Jauh di dalam lubuk hatinya dia kepingin menjadi lesbian. Dalam beberapa kesempatan pun dia menyatakan keinginannya yang tidak lazim itu. “Kayaknya enak ya, bo, jadi lesbi.” Saya sering tertawa ngakak melihat niatnya ini. Heran juga makhluk yang satu ini, yang lesbian banyak yang kepingin jadi hetero, eh dia malah kepingin jadi lesbian.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dia lagi ketika sedang menonton Q! Film Festival. Kembali kami membahas soal isu Questioning ini. “Hai, jeng. Apa kabar?” tanyanya.
Kami pun bertukar kabar sambil menikmati makanan ringan di salah satu cafe di mal.
“Perempuan itu makhluk yang indah. Aku tuh suka melihat perempuan kuat, perempuan yang pintar,” demikian lanjut sahabat saya lagi. “Aku tuh kadang-kadang kepingin bisa naksir perempuan. Aduh.... kayaknya indah banget ya.”

“Percaya deh, jeng. Jadi lesbian itu nggak spesial-spesial amat. Sama perempuan juga nggak melulu enak. Sakit hatinya juga sama seperti ketika perempuan hetero disakiti laki-laki.”

Ternyata sahabat model begini tidak hanya satu orang. Saya juga pernah bertemu perempuan lain yang juga punya concern berlebih kepada kaum lesbian. “Saya tuh sering lho ditaksir lesbian,” demikian kata perempuan itu. “Tapi ya saya tolak, lha wong saya bukan lesbian kok. Tapi saya bangga ditaksir lesbian.”

Saya sebenarnya nggak ngerti di mana bangganya ditaksir lesbian. Kenapa mesti bangga? Dan di bagian mananya yang bikin seseorang mesti bangga ditaksir lesbian. Eniwei, dia terus bercerita bahwa meskipun dia belum menikah dan tidak punya pacar lelaki, dia bahagia dengan hidupnya.

Saya juga teringat kalimat yang sering dilontarkan sahabat baik saya di kantor. Suatu hari kami bertatapan mesra penuh cinta, lalu kami ngakak gila-gilaan. Kemudian dia berkata, “Kalau ada setitik darah lesbian mengalir dalam diri gue tadi, gue pasti udah naksir lo... Secara gue lagi kosong dan lo orang yang gue lihat setiap hari.”

Saya pun menjawab, "Iya. Gue bayangin adegannya gini. Kita duduk di apartemen, menikmati wine. Lo lagi patah hati sama laki-laki lo. Terus lo curhat. Kita setengah mabuk. Eh, kejadian deh... Lalu setengah tahun kemudian, lo nyadar bahwa lo minatnya sama cowok. Males banget nggak sih? Thanks, but no thanks."

Di mata perempuan-perempuan semacam ini, menjadi lesbian seolah-olah jadi keren, jadi semacam simbol status “lagi eksis nih”. Tapi saya yakin kok perempuan-perempuan ini hetero sejati, mereka hanya memiliki kekaguman berlebih saja terhadap keindahan perempuan.

“Kamu pernah sama laki-laki, nggak?” tanya sahabat saya.
“Pernah dong. Banyak malah. Dan, jeng...,” saya mendekatkan tubuh penuh konspirasi padanya, “aku nggak pernah punya masalah dengan mekanisme hubungan lelaki dan perempuan.”
Sahabat saya membelalakkan matanya. “Terus kok berhenti sama laki-laki?”
“Bukan berhenti, ya, jeng. Apa ya? Hm, aku nggak pernah merasa tepat aja sama laki-laki.”
“Maksudnya?”
“Aku nggak pernah membayangkan hidupku dengan laki-laki...” Saya terdiam sejenak. “Hm, gini deh, jeng. Pernahkah kamu membayangkan seperti apa hidup kamu? Hm, contohnya gini, aku punya teman, dia selalu bisa membayangkan seperti apa gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan dia, dan lelaki seperti apa yang bakal menjadi suaminya.”
Sahabat saya mengangguk mengerti.

“Nah, kalau aku tuh nggak pernah merasa at home dengan lelaki. Rasanya ada yang salah. Dan setiap kali aku membayangkan 'rumah', yang kubayangkan adalah perempuan dan sofa. Ruang temaram dan pelukan sambil nonton acara nggak jelas di TV.” Saya memandangnya lekat-lekat. “Kalau kamu bagaimana? Siapa yang kamu bayangkan? Laki-laki atau perempuan?”
Tanpa ragu dia langsung menjawab, “Laki-laki.”
“See? Masalah kamu selesai. Kamu tuh hetero. Dan plis deh, jangan jadi lesbian. Cari laki aja sana.”

“Aku baru ketemu nih lesbian yang menyarankan orang jadi hetero.”
“Ya iyalah. Buat apa coba mau jadi lesbian? Paling-paling kamu nyoba pacaran, tidur sama cewek, lalu apa? Mendadak suatu hari kamu terbangun dan memutuskan untuk jadi hetero (lagi)? Ih cape deh...”
“Iya, iya, bener tuh. Aku punya temen seperti itu. Dia hetero, terus coba-coba pacaran sama perempuan, setahun. Lalu putus karena merasa hubungannya sama perempuan tuh rasanya nggak bener.” Sahabat saya menyedot iced lemon tea-nya sebelum melanjutkan. “Terus apa bedanya dengan perempuan lesbian yang baru sadar dia lesbian setelah punya suami? Perempuan macam itu hetero atau lesbian?”

“Itu sih yang bisa jawab si perempuannya sendiri,” kata saya. “Ada yang memutuskan menikah meskipun tahu bahwa dia lesbian. Ada yang selalu menganggap dirinya hetero meskipun setengah kakinya sudah masuk dunia lesbian. Ada yang lesbian laten, yang butuh waktu lama untuk ngeh bahwa dia lesbian, mungkin setelah menikah dia baru sadar bahwa dia juga tertarik sama perempuan.”

"Aih, jeng, kok eike jadi puyeng ya?"
"Udah, jangan puyeng-puyeng. Lihat arah jam tiga. Ada cowok cute yang dari tadi liatin kita terus."
"Hihihi, si jeng ini... Merhatiin laki juga ternyata..." Sambil pura-pura mencari pelayan, sahabat saya pun menoleh ke arah cowok cute di arah jam tiga.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

6 comments:

Anonymous said...

Jadi lesbian itu pilihan hidup, bukan buat coba-coba ...iya kan jeng.... "kk"

Sinyo said...

Jeng Alex, yuk yak yuuuuuuuuukkk..

Affy said...

Wqkqkqkqkkk...lucuuuu tulisan kamu kali ini, Lex...jd mbayangin ibu2 atau ce2 di toko sepatu, nyoba2in satu persatu sepatu2 yang diminati,jalan mondar-mandir kayak pragawati, tapi buntut2nya balik lagi ke sepatu sendiri...alias kagak jadi beli..! Hahahahaaaa...

alex said...

jeng-jeng semua, yuk, kita arisan... hihihi. Berasa spt ibu2 dharma wanita berkonde deh... :p

andro_gurL said...

wah saya jadi berasa di sentil sama tulisan ini...

karena saya binun...ya itu yg setelah menikah baru menyadari bahwa pernikahan dengan laki-laki bukan impian yg sesungguhnya...aku ga ngerti karena selama ini yg kukenal hanya khidupan hetero, baru kenal lesbian dari dunia maya saat kuliah n masih merasa asing apalagi karena banyak orang yg ga terima...

jadi kira2 saya musti gimana ya...saya juga binun...

les said...

hi... hi...

Subscribe