4:05 PM

Doa

Posted by alex |

Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berikanlah kami rezeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni
yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Amin.
Tiap minggu saya ke gereja, tapi saya tak pernah benar-benar menyimaknya, dan tidak menyadari betapa indahnya doa ini. Sampai dua malam yang lalu. Dua malam yang lalu (malam Jumat), sehabis membereskan pekerjaan dan cemas karena anak sakit, saya menemukan doa ini di dalam sebuah novel.

Saat itu saya sendirian, partner sudah tidur, kemudian saya masuk ke kamar dan mendapatinya di ranjang dengan selimut tertendang jauh. Saya raba suhu si baby yang demam. Saya selimuti dia lagi. Saya pandangi mereka berdua. Seperti apa hidup saya tanpa mereka? Seperti apa hidup mereka tanpa saya? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam benak saya.

Setelah melewati setahun yang panjang akibat pengkhianatan yang kami berdua lakukan, saya sadar, sesadar-sadarnya. Beban ketakutan saya selama ini sudah hilang. Bahwa dia bisa selingkuh dan mengkhianati saya, sebagaimana saya juga bisa mengkhianati dia. Godaan tiap hari lewat di depan saya, secara fisik atau dunia maya. Saya mungkin memimpikan perempuan lain yang tidak akan pernah saya dekati karena saya tak merasa punya beban untuk mendekatinya. Saya tidak punya beban lagi untuk "selingkuh" duluan daripada dia. Atau semacam teori aneh bahwa daripada kita yang sakit hati, lebih baik punya "bemper" lebih dulu.
Godaan pun jadi tidak penting lagi karena tak ada beban untuk membuat kita tergoda untuk bertemu dengan mantan pacar yang masih bertahan menunggu, misalnya.

Saya tidak takut lagi partner akan mengkhianati saya dan saya akan kehilangan dia. Dan saat saya tak takut, segalanya lebih ringan. Saya percaya dengan kekuatan doa dan kebahagiaan diri sendiri.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

4 comments:

Anggra said...

"Dan saya tak takut, segalanya lebih ringan"

Dear Alex,
Saya sangat setuju sekali dengan kalimat diatas.

Salam kenal,
Anggra

Anonymous said...

Dear Alex,

Aku jatuh cinta kepadaNya. Tiap kali membaca, mendengar atau mengucapkan Doa itu, aku merasakan hidup ini sangat bergairah karena aku tahu cintaNya kepadaku tidak terukur.

@Aku.

Sinyo said...

Lex.. bukankah dengan adanya rasa takut membuat kita semakin dekat dengan-Nya? Dengan adanya rasa takut kehilangan partner membuat kita berhati-hati dalam bergaul??
Aku mengartikan ketakutan disini bukan beban, tapi berkah loh Lex..

alex said...

@Anggra, salam kenal juga...

@Aku, memang doa ini sangat indah.

@Sinyo, aku lebih suka dekat dengan-Nya karena cinta. Rasa takut boleh jadi pagarnya, tapi bukan pondasinya. Tentu saja, rasa takut kehilangan partner membuat kita jadi berpikir dan tidak bertindak bodoh seperti sembunyi2 ketemu dengan selingkuhan, misalnya. Harganya terlalu mahal dan nggak layak jika harus kehilangan pasangan.

Tapi aku menyebut rasa takut di sini sebagai ketakutan diselingkuhi. Kadang2 kita sering parno sendiri saat pasangan kita pernah selingkuh... nah itu beban yang harus dihilangkan.

Subscribe