Jane Austen Book Club adalah film yang diangkat dari buku berjudul sama karangan Karen Joy Fowler, yang entah bagaimana tidak pernah bisa tuntas saya baca :p. Namun untuk film ini, buat saya pribadi, Jane Austen Book Club adalah feel good movie untuk perempuan di atas 30 tahun. Film yang ceritanya perempuan banget, dengan beragam masalah perempuan dewasa.

Di film ini kau akan menemukan perempuan berusia 45 tahun masih bisa menemukan cinta dari lelaki lebih muda. Perempuan yang ditinggalkan suaminya setelah 25 tahun pernikahan, namun menemukan blessing in disguise dari perpisahan itu. Perempuan yang tidak pernah menganggap suaminya cukup baik untuknya dan tergoda berselingkuh dengan remaja yang gantengnya bisa bikin orgasme hanya dengan melihatnya. Serta lesbian yang bisa menemukan pacar semudah menjentikkan jari.

Sepanjang karier menulisnya, Jane Austen (1775 – 1817) menerbitkan enam buku. Dan dari ide inilah Bernadette (Kathy Baker) perempuan berusia 60 tahun dengan keceriaan dan jiwa persahabatan yang tinggi memulai kelompok buku Jane Austen. Dia merasa kelompok buku ini akan membantu menghibur Jocelyn (Maria Bello), perempuan kaya, lajang, control freak yang sulit punya hubungan dengan manusia, dan sedang sedih karena baru ditinggal mati anjingnya. Juga menghibur Sylvia (Amy Brenneman) yang baru dicerai suaminya Daniel (Jimmy Smits) karena kepincut wanita lain setelah 25 tahun pernikahan mereka yang bahagia.

Karena ada enam buku, mereka mencari tiga orang lagi untuk menggenapinya. Prudie (Emily Blunt), guru bahasa Prancis di SMA yang tidak bahagia dengan pernikahannya karena dia merasa sang suami tak pernah memahami dirinya. Allegra (Maggie Grace), gadis berusia 20 tahunan, putri Sylvia dan Daniel yang out and proud lesbian. Dan karena masih kurang satu orang, akhirnya mereka mengambil Grigg (Hugh Dancy), satu-satunya lelaki dalam kelompok buku ini, yang tadinya dibawa Jocelyn untuk menghibur Sylvia.


Keenam masing-masing membaca dan mengulas novel-novel Jane Austen dan bertemu beberapa bulan sekali. Mansfield Park, Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Emma, Northanger Abbey, dan Persuasion. Bagaimana saat mengulas buku ini satu per satu, tokoh-tokoh dalam film ini memiliki hidup yang berpararel dengan tokoh-tokoh dalam novel-novel Jane Austen. Dan apa yang akan dilakukan Jane bila berada dalam posisi tersebut? Buku yang bagus kadang-kadang bisa mencerahkan pembacanya, dan buku-buku Jane Austen memiliki kekuatan seperti itu. Buat saya, novel-novel Austen bercerita tentang perempuan-perempuan berkarakter, hasrat untuk menemukan cinta, dan happy ending.

Tokoh-tokoh lelaki dalam film ini juga ditampilkan begitu laki-laki. Grigg membuat film ini jadi kelihatan Jane Austen-nya, dengan caranya dia mengingatkan saya pada Mr. Darcy dan Mr. Knightley. Bagaimana dia diam-diam mencintai Jocelyn yang keukeuh menjodohkannya dengan Sylvia. Dan bagaimana Grigg bisa tampil sebagai lelaki (non-gay) yang bisa masuk dalam lingkaran perempuan, dan tetap menjadi dirinya sendiri. Daniel ditampilkan sebagai lelaki yang sesungguhnya suami dan ayah yang baik, namun 25 tahun adalah waktu yang lama untuk pernikahan.... dan setelah bercerai dengan Sylvia, Daniel justru baru bisa melihat hidup yang selama ini dijalaninya sebagai orang luar.

Aktor-aktornya memiliki chemistry yang pas. Maria Bello adalah alasan saya menonton film ini pada mulanya, namun acungan jempol untuk Emily Blunt atas aktingnya yang tak bercela sebagai Prudie. Adegan ketika dia menghampiri suaminya dan menyuruh suaminya membaca Persuasion setelah nyaris berselingkuh dengan salah satu siswanya yang hot dan menggoda membuat saya berkaca-kaca.

Banyaknya tokoh membuat film ini memberi kesan menggampangkan dalam penyelesaian masalah. Tapi bukan masalah besar juga karena film ini memang dibuat seperti itu. Allegra yang lesbian pun ditampilkan sebagai sosok cantik yang bahagia, dan kemudian sedih karena dikhianati oleh kekasihnya, lalu dengan mudah menemukan pengganti.

Ini bukan film yang akan menghasilkan Oscar atau film yang harus mesti ditonton semua orang. Ini adalah film cewek, yang perlu ditonton di saat yang tepat, sendirian atau berdua dengan kekasihmu, bergelung di sofa ditemani segelas susu hangat, dan ketika film berakhir kau akan tersenyum dan bahagia menjadi perempuan

@Alex, RahasiaBulan, 2008

0 comments:

Subscribe