1:23 PM

My Katarsis #2

Posted by alex |

I wanna love that last.
Seorang sahabat menulis kalimat itu di stat YM-nya selama beberapa hari terakhir. Beberapa kali saya tergelitik untuk bertanya padanya, “Apa sih maksudnya?” Tapi beberapa kali pula saya membatalkan niat saya tersebut. Saya telanjur malas, jangan-jangan kalau stat YM itu memang ada apa-apanya, saya malah ketiban curhat yang nggak perlu. Tapi dalam otak saya sudah berkembang berbagai “teori” tentang stat YM tersebut.

Buat saya: “Love is a constant change.”
Cinta itu selalu berubah bentuk mengikuti perubahan hati pelakunya. Waktu bergerak, manusia berubah dan perasaan pun berubah. Dan jika dua orang itu masih ingin terus bersama, mau tak mau cinta itu pun harus mengikuti perubahan. Kalau tidak, cinta itu akan tertinggal jauh di belakang.

Saya tidak mengharapkan cinta yang sama yang saya rasakan pada awal hubungan selamanya. Setelah empat tahun menjalin hubungan, saya tidak berharap kami bisa bercinta gila-gilaan selama enam jam di ranjang dengan orgasme multipel yang menggetarkan dinding kamar, seperti yang terjadi pada saat kami bercinta pada kali kedua atau ketiga. Atau rasa melayang bak disuntik narkoba ketika dia berkata kepada saya, “I think I’m in love with you. I cannot give you everything. I can only give you my heart.” Saya tidak mau dia jadi heroin saya.

Relationship is a living creature, itu kata sahabat saya dalam satu solilokui hariannya ketika saya mandek dengan tulisan ini. Hubungan itu sendiri adalah makhluk hidup yang punya nyawa. Dia ada di antara dua orang yang menjalin hubungan. Tak kasatmata, namun berbentuk. Hubungan itu sendiri harus hidup dan bergerak sesuai dengan perubahan yang terjadi. Kalau tidak, dia akan mati dan dua manusia itu akan mencari percik-percik kehidupan di tempat lain.

Setelah sekian lama berlalu saya ingin bisa memandang kekasih saya dan melihatnya sebagai sosok yang paling indah walaupun dia sedang mengupil dan memakai daster butut. Kemudian saya memandangnya, melihat matanya lekat-lekat, lalu tersenyum padanya, dan berkata, “I love you.” Atau pada saat berbaring di ranjang dalam kegelapan malam, saya berbisik di lehernya dan berkata, “Aku cinta kamu.” Dengan cinta yang berbeda. Dengan cinta yang mengolah dirinya dalam hubungan kami. Bukan cinta dengan sensasi tarian kupu-kupu di perut, karena kupu-kupu hanya punya masa hidup 100 hari, tapi dengan cinta yang mampu memberikan kekuatan pada seseorang untuk menghancurkanmu hingga berkeping-keping.

@Alex, Rahasia Bulan, 2008

1 comments:

Eva said...

so touch..seandainya saya mempunyai pasangan yg mampu bertahan bersama maka akan sangat baik ataupun memang saya yg terlalu takut untuk menghadapinya

Eva

Subscribe