Bagaimana kau melanjutkan hidup setelah hatimu hancur dan hidupmu tak keruan setelah orang yang kaucintai pergi dari hidupmu?
Sebagian orang mengucapkan selamat tinggal dan melanjutkan hidup, sebagian lagi memilih bertahan dan menunggu.

Elizabeth (Norah Jones) adalah perempuan yang patah hati dan memutuskan untuk menunggu kekasihnya kembali. Dia menitipkan kunci apartemennya pada Jeremy (Jude Law) pemilik kafe yang tinggal di seberang apartemennya, seandainya kekasihnya memutuskan untuk kembali dia bisa mengambil kunci itu pada Jeremy.

Dan Elizabeth pun menunggu. Bersama Jeremy. Dalam malam-malam yang diisi dengan obrolan dan pie blueberry. Kenapa pie blueberry? Karena itulah jenis pie yang nyaris tidak pernah dipesan pelanggan kafe. Tapi Jeremy tetap membuat pie itu, untuk jaga-jaga kalau saja ada yang memesannya. Jeremy bercerita tentang kunci-kunci yang dititipkan padanya, dan ditaruh dalam mangkuk. Tidak berbeda dengan Elizabeth, Jeremy pun salah satu dari manusia soliter yang menunggu cintanya kembali. Mereka adalah manusia-manusia ngeyel yang keras kepala dalam romantisme penantian cinta tanpa akhir. Sesungguhnya hanya perlu “closure” untuk membuat mereka bangun dari kenyamanan semu itu, sebagaimana yang diperoleh Jeremy pada pertengahan film dan Elizabeth pada akhir film.

Sebagaimana film-film karya sutradara Wong Kar Wai lainnya, My Blueberry Nights bercerita tentang manusia-manusia soliter. Manusia-manusia yang nyaman dengan kesendirian mereka, namun tetap membutuhkan manusia lain untuk tetap hidup. Manusia-manusia yang bisa melewati hidup sendirian, namun tanpa suara menjerit lantang, “Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau sendirian.”

Seperti yang ditampilkan sutradara asal Hong Kong ini dalam Chungking Express dan In the Mood for Love, Wong Kar Wai bermain dengan bahasa warna visual (ungu dalam film ini) dan soundtrack/music score yang pas. Meskipun tidak sedahsyat film-filmnya yang berbahasa mandarin, My Blueberry Nights adalah film pertama berbahasa Inggris karya Wong Kar Wai yang diputar dalam pembukaan Cannes Film Festival ke-60 tahun 2008. Oya, ini bukan film lesbian, tapi tokoh-tokoh utama dalam film ini dikuasai oleh tiga perempuan. Norah Jones, Rachel Weisz, dan Natalie Portman. Dan ketiganya menampilkan akting terbaik mereka meskipun tidak fenomenal amat. Ini adalah film perempuan banget, dan tidak rugi melihat tiga perempuan cantik ini adu akting.

Film-film Wong Kar Wai selalu memiliki arti personal buat saya. Secara pribadi saya selalu jatuh cinta pada film-filmnya. Pada manusia-manusia yang ditampilkan dalam film-filmnya. Pada kesepian. Pada malam hari. Pada kesunyian. Saya kadang-kadang menganggap diri saya seperti makhluk soliter ciptaan Wong Kar Wai. Ada bagian diri saya yang mengisi malam dan sunyi. Malam-malam insomnia yang membuat saya tidak bisa tidur sebelum lewat tengah malam. Namun lebih seringnya, ada kenyamanan tidur bersama pasangan yang bisa memberikan pemenuhan bagi diri kita sedemikan rupa. Saya rasa penyerahan diri tertinggi pada orang yang kita cintai adalah ketika kita memiliki rasa nyaman bersama pasangan, yang salah satunya adalah saat kita bisa tidur rileks di sampingnya.

Kembali ke Elizabeth yang kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan New York, karena menunggu kekasihnya terlalu menyakitkan dan dia tak sanggup mengucapkan selamat tinggal. Satu-satunya cara adalah pergi dengan membawa luka. "How do you say goodbye to someone you can't imagine living without?

Elizabeth sampai ke Memphis dan bekerja sebagai pelayan bar. Di sana dia bertemu dengan polisi alkoholik yang masih menunggu cinta istrinya, sementara sang istri sudah bersama entah berapa banyak lelaki. Sementara sang istri (Rachel Weisz) kepingin suaminya berhenti mencintainya begitu dalam, berhenti menunggu, dan melepaskannya. Dalam film ini Rachel Weisz tampil teramat seksi dengan gaun ketat dan rambut acak-acakan. Dan di antara tiga perempuan dalam My Blueberry Nights, she's the Wow!

Dari Memphis, Elizabeth melanjutkan perjalanan ke Nevada dan bertemu dengan Leslie (Natalie Portman). Karena kalah judi, Leslie minta diantar oleh Elizabeth ke Texas. Bersama Leslie, Elizabeth belajar bahwa sudah saatnya dia menghargai apa yang dia miliki, bukannya berpegangan pada keinginan untuk menunggu.

Selain menjadi pemeran utama, Norah Jones juga mengisi soundtrack film ini. Suaranya yang renyah mendayu sangat pas untuk film ini. New York malam hari. Dua manusia soliter bertemu dan saling mengisi. Perjalanan hingga Memphis lalu Nevada juga perjalanan soliter yang harus ditempuh oleh Elizabeth untuk berhenti menunggu, belajar mengucapkan selamat tinggal, dan melanjutkan hidup.

Saat kau tidak bisa melepaskan, kau tidak bisa melanjutkan hidupmu. Seberapapun “bahagia”nya kau menunggu, hidupmu tak berlanjut. Kau hanya berputar-putar dalam lingkaran bahagia semu dalam hidup solitermu. Itulah inti My Blueberry Nights. Endingnya pun sebenarnya tidak sulit ditebak. Setelah menghabiskan hidup hampir setahun dalam perjalanan menjauh dari rasa sakitnya, Elizabeth pulang, dan menyeberangi jalan dari apartemennya menuju ke tempat di mana kunci-kunci dalam mangkuk itu tidak pernah diambil oleh orang yang diharapkan. Ke kafe tempatnya menghabiskan malam-malam Blueberry-nya bersama Jeremy.

@Alex, RahasiaBulan, 2008

11 comments:

Rie said...

Kayaknya film wajib tonton neh... Aq termasuk manusia soliter. Membaca kisah Elizabeth di film ini seperti refleksi ke kehidupanku sndr.

mencintaijo said...

Wahhh, Lex. Mauuuuuu dunk film-nya, hehehehe secara yang main jones ama weisz, hikssssss

gilasinema said...

Ini film memang layak tonton. Filmnya begitu membuai seperti lagu-lagunya Norah Jones yang akting debutnya cukup memuaskan.
Wong Kar Wei juga memanjakan mata kita dengan menampilkan indahnya warna-warna malam (warna neon)

Azel Circle said...

Lex,nggak nyangka kamu bakal ngeresensi film ini,sumpah...Aku dah nontonnya dua kali,Lex.
Thanks..Lex,kamu tahu aja yang ku mau,ha ha ha..

alex said...

@Rie, nonton deh. Ternyata bukan cuma kita sendiri manusia soliter :)

@jo, Rachel Weisz-nya sexy banget. Sumpe deh... SEXY!

@gilasinema, aku jatuh cinta sama film ini. Tapi, memang selalu mudah bagiku untuk jatuh cinta pada film2 Wong Kar Wai.

@Azel Circle, huehehe, ge-ernyaaa... Aku jg udah ntn 3x

bayik said...

fave quote yang mencerahkan gue banget: (kurang lebihnya sih begini ya) "there's nothing wrong with the blueberry pie. it's just... nobody wants it."

as simple as that.

alex said...

Yeah, ouch banget ya.

salah satu fave quote yg mencerahkan aku selain yg aku tulis di atas,
"Even if the door is open, the person you're looking for may not be there."

Perjalanan Grey said...

Jadi pengen nonton juga neh... Bisa di download ga yah???

Jangan-jangan aku termasuk manusia Soliter juga neh, aku masih belum bisa berpaling dari mantanku seh...

Lushka said...

norah jones ya?..buat manusia-manusia dari suku pedalaman kaya aku dan mithya, dengerin lagunya Norah Jones, rasanya 'mau mateeeeeee...hehehehehe.
Berasa kaga ga niat nyanyi..hihiihi.
Ya memang, kami manusia liar. =)

Btw, menurut K'Alex, Ms. Jones bakalan terjun ke dunia akting apa hanya sekedar pelepas penat, macam Mba Britney ya?

*hihihi, padahal kan ini ngeresensi film, ya? bukan Ms.Jones, maaaaaaaaaaaaaf.*

alex said...

Luskha, kurasa Mr. Wong Kar Wai emang sengaja memiliki Ms. Jones di sini. Ada semacam rasa "pengulangan" yg ingin dibuat Mr. Wong seperti ketika dia memilih Faye Wong, yg jg penyanyi, sbg peran utama di film Chunking Express. Soalnya music score dan soundtrack memegang peran penting dalam kedua film ini.

Analisisku lagiii nih, mungkin Mr. Wong melihat Ms. Jones bisa merepresentasikan suara malam New York, yg jazzy.

Btw, udah ntn film ini blm? Sempet diputar di bioskop lho...

Rie said...

Akhirnya aq nonton juga hehe...
G susah hunting filmnya... Ttg Rachel Weisz aq lebih suka wkt dia di film definitely, maybe.

Subscribe