10:45 PM

Hujan

Posted by alex |

Air menetes satu-satu. Awalnya perlahan. Tapi aku tahu beberapa detik kemudian tetesan air ini akan berubah menjadi duri-duri yang melesat bak panah dari langit. Kutarik tangannya. “Ayo, cepetan!” Dia pun bergegas mengikuti langkahku. Tangannya menutupi kepala seakan hal itu bisa menolongnya dari sergapan air.

“Sedikit lagi sampai, kalau kita lari, kita mungkin keburu sampai ke apartemen.”
Terlambat, hujan keburu mengguyurkan bah ketika jarak apartemen hanya tinggal selemparan lembing. Tanganku ditariknya ke depan toko yang sudah tutup. Dia bersandar di depan pintu toko, aku otomatis berdiri di hadapannya. Tubuh kami berdua terlindung dari terpaan hujan. Hanya ada cahaya kuning dari lampu bohlam di atas kepala kami, tapi aku bisa melihat wajahnya yang basah. Kuseka pipinya dengan jemariku, “Apakah ini hujan atau air mata di pipimu?”

Dia mendongak, tak menjawab. Tangannya meraih kepalaku. Bibir kami mendekat. Kurasakan bibirnya yang dingin tanpa lipstik, bergetar beradu dengan bibirku. Ciuman sepasang kekasih yang malu-malu seperti kupu-kupu menghinggapi bunga. Ciuman penuh belitan yang mampu menahan waktu. “Bercintalah denganku,” katanya. Dan aku pun menciumnya lagi. Ciuman sepasang kekasih yang sudah saling mengenal bentuk dan rasa selama bertahun-tahun.

“Ide siapa tidak membawa payung?”
“Kamu tahu apa arti payung buatku.”
“Benda milikmu yang paling sakral. Selevel dengan kitab suci.”
“Hujannya nggak deras-deras amat kok.”
Dan jadilah kami berlari menembus hujan, melintasi genangan air, menyeberangi jalan penuh mobil. Bergandengan tangan.

Kami seperti sepasang kucing yang kecebur got, melintasi satpam yang kebingungan melihat betapa tidak kerennya kami mencipratkan air di mana-mana. Terkikik, kami masuk ke lift dan memencet tombol 23. Bergegas kami masuk ke apartemen, melepaskan pakaian kami yang basah, lalu menuju kamar mandi. Berdua. Siraman shower yang hangat begitu nikmat menghajar tubuh kami yang menggigil. “Bibir kamu biru.” Lalu kukecup bibirnya lagi, lagi, dan lagi.

“Aku nggak pernah menangis, babe.”
Yes, you did. Kamu menangis saat kamu menyakitiku.”
Dan kali ini dia duluan menciumku. Lama dan dalam. Tidak ada air mata.

Kami hanya menyeka tubuh seadanya. “Dingin banget nih. Matiin AC-nya.”
“Ini udah mati, babe.”
“Masuk ke dalam selimut aja.”
“Kata di buku...”
Shut up, babe, jangan ngomong buku itu lagi, kita udah telanjang nih.”
“Berbagi panas tubuh...”
Kami tertawa terbahak-bahak, mengingat isi buku itu.

Kami bercinta seperti dua manusia yang pulang setelah bertahun-tahun tersesat di hutan. Tidak ada malu, tidak ada sungkan, tidak ada ragu. Segala sentuhannya begitu alami, begitu nyata, begitu familier.

“Untuk satu malam ini, bisakah kita melupakan segalanya selain hanya kita berdua? Rasanya tidak pernah ada waktu yang cukup seperti itu. I need to be with you. Just you,” bisikku.
“Babe, kamu harusnya tahu dunia di luar sana tidak menarik bagiku, tanpa kamu.”

“Cintai aku seakan hari esok tak pernah ada lagi,” bisiknya.
“I love you. I have always loved you, and I will always love you.”

Kurasakan tubuhnya bergerak dalam pelukanku. Kulepaskan dia, tanganku seakan mati rasa tertindih kepalanya. Lamat-lamat kubuka mataku. Jendela di luar masih basah oleh hujan. Hanya rintik-rintik kecil. Matahari pagi malu-malu menyapa di balik awan.
“Jam berapa, babe?”
“Nggak tahu.”
“Aku paling suka pagi-pagi seperti ini. Terbangun dalam pelukan kamu.”
Dia bergerak, menelikungkan tubuhnya sehingga berhadapan denganku.”Mulut kamu bau, babe.”
“Kamu juga.” Tapi tak menghalangi kami untuk berciuman.

Dia bangun dari ranjang. Tubuhnya yang telanjang berjalan menuju jendela. “You look... sexy,” kataku memandangnya. “Dan kurasa lima ratus orang dari apartemen seberang sana juga menganggap kamu sexy.”
“Hahaha, aku selalu suka memandang hujan dari jendela apartemen. Memandangi orang-orang yang bergerak di bawah.”
“Ya, dan orang-orang juga senang memandangimu dari jendela.”

Aku bangun melangkah ke arahnya, memeluknya dari belakang. Ikut memandangi rintik hujan yang menghantam sosok-sosok mungil berpayung di bawah sana. Kukecup bahunya dan kupeluk dia erat-erat. Dia masih memandang ke bawah ketika aku beranjak darinya. “Nih, pakai kemejaku, babe.” Kulemparkan kemeja pink milikku yang tersampir di kursi.

Aku mengambil sweter hijau dari lemari, berjalan menuju pantry, dan kembali dengan secangkir kopi. Dia sudah mengenakan kemejaku dan celana pendek, duduk di depan laptopnya, mengetik entah apa di sana. Matanya sesekali menerawang ke jendela. She's in one of her mood.

Aku duduk di ranjang, menaruh kopi di meja samping. Mengambil novel yang belum habis kubaca. Dan aku memulai pagiku dengan melanjutkan bacaan yang tertinggal. I'm in one of my mood too.

Hening. Hanya ada suara ketukan keyboard dan gesekan kertas dibalik. Sesekali ada suara kursi berdenyit dan cangkir kopi yang diletakkan kembali di meja. Sementara di luar hujan mengalir malas di jendela.

@Alex, RahasiaBulan, 2008
PS: Dear Lakhsmi, hujan mengingatkan aku pada kota yang romantis, tempat kita mengikat janji kita. Hujan mengingatkanku pada teriakan anak-anak yang gembira, pada parkiran Blitz Megaplex, pada romantisme tanpa henpon atau laptop. Kau pernah memberiku Pagi dan Malam Kegelapan Total. Kali ini kupersembahkan Hujan untukmu.

16 comments:

dian said...

sumpah....!!
manis sekaliiiii......!!

Lakhsmi said...

*speechless*

thank you, I love you.

*lakhsmi

Picank said...

Uhm..
Huehehe..
Uhmm..
*speechless..
Ada senyum yang paling manis di wajah aku setelah baca ini

Anggra said...

Lex, tulisanmu membuatku seperti menonton adegan romantis dalam film drama percintaan.
Manis sekali..

Shanz said...

Menyentuh :)

Anonymous said...

Mencintai kekasih seperti hari esok tak pernah ada lagi, adalah cara terdahsyat untuk mencintai.

Aku jadi tidak mau berlama-lama marahan dengan kekasih, menjaga agar tidak ada kata dan sikap yang melukai hatinya. Aku ingin, bila aku tiada yang diingat kekasihku hanyalah bahagia...

Ningnong

Lakhsmi said...

haduh, komennya cerdas-cerdas. Kayaknya komenku garing banget deh Beib. Sori ya, gara-gara peristiwa kemarin itu tuuuh, jadinya nggak bisa mikir kasih komen yang sweet.

Pokoknya mwuah deh!

Perjalanan Grey said...

Aduh... bikin iri yang masih jomblo neh....

alex said...

@lakhsmi, hehehe, it's okay, kamu tuh nggak pernah garink kok, :)
mwuah juga...

d` said...

Begitu Indah, Begitu nyata.
Ini salah satu kisah cinta Indah yang kubaca, Lex.

Keep shining!

Anonymous said...

aduuuuuuuuuuuuuh
aduuuuuuuuuuuuuh
kangen pohonku.

utanaujana

Sidney said...

Lex yuk kita ketemuan lagi, kamu sama Yayangmu dan anak-anak. Karen kangen berat dengan anak-anakmu!

Benar-benar pas dengan mood. Hujan selalu menurunkan sejuta inspirasi.

De Ni said...

Dalam rintik hujan dan dingin malam.
Kalian menjadi pasangan terindah.

Rie said...

hiks...menyentuh banget... berasa banget... mataku sampai berkaca2 bahagia...

alex said...

Buat semua yg udah komen di sini, terima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aduh, aku nggak bisa balas satu2, overwhelmed nih, hihihi. :)

Anonymous said...

Terima kasih atas kesempatan merasakan percikan "hujan"mu.
Setelah sekian lama akhirnya hati ini mampu terbuka lagi.. dan berani untuk mencintai.

Terima kasih, percikanmu membuatnya tumbuh untuk mencari mataharinya sendiri..

Subscribe