Oleh: Alex

Kemajuan teknologi membuat manusia merasa harus terus terkoneksi. Teknologi yang berubah demikian cepat membuat kita terkadang lelah harus berkejaran dengan kecepatan perubahan. Dan bagaimanapun, kita selalu kalah mengejar kecepatannya.

Saat kita bisa santai, kita merasa berdosa karena merasa terlalu egois, padahal kita harus stay connected demi teman-teman maya kita. Kita jadi manusia kesepian yang mencari dan terus mencari kebahagiaan di luar diri kita sendiri. Kita menarik siapa pun yang ada di dunia maya, berpikir bahwa maya itu bisa jadi realitas dan realitas adalah kenyataan yang bisa kita tunda kapan saja. Sahabat, kekasihmu, atau korban tepe-tepemu hidup di dalam laptop dan handphone.

Orang yang ada di depan mata kadang-kadang kita abaikan karena kita sering berpikiran, “Ah dia selalu ada.” Tapi yang jauh dan maya selalu kita cari-cari karena mereka tidak selalu ada dan karena ke-maya-an mereka itu, kita jadi merasa terus-menerus haus ingin “menyentuh”nya. SMS/MMS/YM/telepon yang masuk mengingatkan otak kita bahwa “Hai, aku di sini. Please stay connected with me.”

Kita jadi takut kehilangan tali koneksi yang rapuh itu. Rayuan, cinta, dan pemujaan lewat dunia maya terasa samar namun jiwa egois kita tidak mau kehilangan semua itu. Ibarat menggenggam udara. Kita terus berpegangan pada dunia semu yang rapuh karena takut kehilangan. “Masih ingat janjimu untuk mencintaiku selamanya?” Berapa lama selamanya dalam kemayaan? Seperti apa bentuk cinta yang semu? Saat dia jauh, kau berusaha menggapai-gapainya, menariknya kembali. Cukup dengan satu pesan pendek. SMS/YM/E-mail. “Masihkah ada aku dalam hatimu?”

Padahal perasaan itu perasaan yang semu. Ilusi. Yang mati-matian kita pertahankan karena kita takut kesepian. Kita mencari dan terus mencari sahabat, kekasih, atau siapa pun yang bisa kita pegang. Apalagi dalam dunia lesbian, yang konon mencari pacar sangatlah sulit. Kau berpegangan pada seseorang mati-matian. Terkadang, walaupun maya, kaupuaskan dirimu dalam kemayaan itu. Dan di antara itu ada manusia-manusia yang cuma berani di dunia maya tapi gentar menghadapi kerasnya kenyataan hidup. Ibarat burung onta memilih menyerudukkan kepalanya di pasir. Di dalam pasir dia berteriak, "Jangan tinggalkan aku ya. Aku takut tidak punya siapa-siapa."

Kita tidak perlu bertemu secara fisik, selama aku bisa curhat denganmu, menceritakan hari-hariku padamu, mengirimimu SMS, meneleponmu di saat senggang. Setelah telepon dimatikan, setelah SMS/YM berakhir lalu apa? Kamu tetap merasa haus, ibarat dahaga yang dituntaskan dengan air laut. Ada “it” yang hilang, yang tidak bisa tergantikan. Dan saat kau pulang ke dunia realitasmu di ujung waktu, kau baru sadar bahwa kau sudah mengenyahkan banyak orang untuk memegang “kesemuan” itu.

Makin lama kau merasa dirimu kosong. Hampa, walaupun kau berusaha menarik sebanyak mungkin udara ke paru-parumu. Semakin banyak kau menarik udara, kau tidak merasa penuh, tapi kau melayang. Dan itu makin membuatmu takut. Takut akan kehilangan kontrol diri dan jejakanmu di bumi. Rasanya gamang dan menakutkan.

Kita takut kehilangan rasa semu yang kita terima dari orang-orang di dunia maya. Kita ingin berpegangan dengan rasa itu tak peduli konsekuensinya. Kita menyimpan rasa itu dalam ruang kosong seperti kita menyimpan barang di gudang. Disimpan dulu, yang penting ada di gudang, dan bisa kita pakai kapan saja kita mau. Hingga lama kelamaan barang tersebut akan berdebu dan berubah fungsi menjadi sampah gudang dengan sendirinya.

Stay connected. Seharusnya teknologi membuat manusia terkoneksi, membuat manusia makin punya waktu untuk orang-orang yang disayanginya. Tetapi kenapa banyak manusia jadi makin kesepian?

@Alex, RahasiaBulan, 2008

0 comments:

Subscribe