Hello!

As you may have noticed, I sent you an email from your account.
This means that I have full access to your device.

I've been watching you for a few months now.
The fact is that you were infected with malware through an adult site that you visited.

If you are not familiar with this, I will explain.
Trojan Virus gives me full access and control over a computer or other device.
This means that I can see everything on your screen, turn on the camera and microphone, but you do not know about it.

I also have access to all your contacts and all your correspondence.

Why your antivirus did not detect malware?
Answer: My malware uses the driver, I update its signatures every 4 hours so that your antivirus is silent.

I made a video showing how you satisfy yourself in the left half of the screen, and in the right half you see the video that you watched.
With one click of the mouse, I can send this video to all your emails and contacts on social networks.
I can also post access to all your e-mail correspondence and messengers that you use.

If you want to prevent this,
transfer the amount of $873 to my bitcoin address (if you do not know how to do this, write to Google: "Buy Bitcoin").

My bitcoin address (BTC Wallet) is: 1F3mAYuD3sEjufi5pPgDjAAM6SJPN6bFvn

After receiving the payment, I will delete the video and you will never hear me again.
I give you 50 hours (more than 2 days) to pay.
I have a notice reading this letter, and the timer will work when you see this letter.

Filing a complaint somewhere does not make sense because this email cannot be tracked like my bitcoin address.
I do not make any mistakes.

If I find that you have shared this message with someone else, the video will be immediately distributed.

Best regards!

4:09 AM

significatifs Exodus Abritel

Posted by Anonymous |

entenir, image vomito
nuptial
BobArdKor.
enclaves bordage Shhh
immisc exciper.
Duvreuil, echappement attristent
munummumnu
rapportent.
croive VoteWatch menteuse
entreprenante anticonformisme.

suintes, youplala alias
Sinatra
entant.
centes enseirb belliqueuses
Goulard ENERGYYYYYYY.
skyblog, Kojima demerd
merdoie
laval.
HowToGeek depose coincide
Dieux ruisselage.

redditais, clatait quentent
claircissent
volante.
Zeroes manipulez qoit
Pinard nuques.
UFSC, spabien framapad
Bouzar
Merles.
SAPN vosgiennes remboursements
tapenade pylote.

8:19 AM

[SUSPECTED SPAM] OMG it's true

Posted by Anonymous |

Hi,

 

I've just found something really interesting and OMG ... it's amazing, just take a look http://niduwifo.flyburst.com/lnzanhro

 

Hope this helps, Alex Skywalker

10:01 PM

Fw: new message

Posted by Anonymous |

Hello!

 

You have a new message, please read http://strata-g.co.za/anxious.php

 

Alex Skywalker

12:11 PM

Makan Yogurt Enaaaak Banget!

Posted by SepociKopi |

Oke, deh, kesibukan saya memang membuat saya jadi susah menulis di blog ini. Beneran, saya nggak ngeles, kok. Kerjaan kantor buat perhatian saya tersedot ke sana. Hehehe, sok orang penting Alex ini. Sekarang saya cerita tentang jalan-jalan ke mal aja secara saya dan Lakhsmi selalu rekreasi ke mal setiap ada kesempatan. Enggak heran kalau anak-anak kami mendapat titel sebagai "Miss Mal" karena kebutuhan yang tinggi bepergian di mal.

Minggu kemarin kami pergi ke mal di daerah utara Jakarta. Sebelum tiba, selama perjalanan anak-anak sudah ribut membicarakan yogurt. Apa? Iya, iya, yogurt. Kedua-duanya lagi tergila-gila yogurt rasa stroberi dengan toping cokelat, wafer, dan yang manis-manis lainnya. Saya hanya mengangguk-angguk sambil nyengir menyetujui rencana anak-anak makan yogurt setelah makan siang. Sementara Lakhsmi sibuk menyetir dan rajin menasehati agar bungsu dan sulung menghabiskan makan siang mereka.

Setelah makan siang selesai, saatnya ke gerai yogurt. Perut masih gendut karena makanan belum turun sepenuhnya, tapi siapa yang bisa menolak semangat anak-anak terhadap yogurt? Maka setelah berdiskusi bolak-balik, kami memutuskan pergi ke gerai Tutti Frutti. “Murah dan toppingnya bisa banyak,” kata Lakhsmi simpel, mengunci mati argumentasi sulung yang pengin pergi ke Sour Sally.

Dengan sigap Bungsu menyambar mangkuk dan ngotot nggak mau membagi yogurtnya dengan siapa-siapa. Saya terpaksa membuang yogurt rasa lychee ke mangkuk Lakhsmi karena Bungsu pengin mangkuknya hanya ras stroberi. Saya lihat mangkuk Lakhsmi udah penuh dengan yogurt rasa macam-macam, stroberi (kesukaan Sulung), blackcurrant (kesukaan Lakhsmi), dan lychee (kesukaan saya). Sementara khusus Bungsu, mangkuknya hanya rasa yang dia suka aja (stroberi).

Setelah mengisi topping, saatnya mengantri untuk bayar. Timbang, timbang, kira-kira berapa ya berat yogurt ini? Sesaat setelah membayar, kecelakaan terjadi. Sulung dengan semangat mengambil mangkuk bungsu yang lagi ditimbang, sedikit terpeleset tangannya, miring ke kiri, dan... uh oh! Untung Lakhsmi sigap menyambar sebelum mangkuk yogurt itu terjatuh ke lantai. Beberapa topping jatuh berhamburan ke lantai.

Bungsu memandang kejadian itu dengan tatapan kesal. Uh oh lagi. Dia mulai menjerit sama kakaknya. Uh oh. Dia mulai memaksa minta nambah topping karena topping-nya jatuh ke lantai. Mana mungkin dong, karena yang sudah dibayar itulah yang ditimbang. Segala pengertian tidak dapat membuatnya mengerti karena dia mulai ngambek tak alang kepalang. Lakhsmi mencoba segala cara, tapi gagal. Ya, kedengarannya sepele kalau diceritakan sekarang, tapi percayalah waktu kejadian itu terjadi, ketegangan itu nggak ada bedanya dengan ketegangan pembalap FI dalam putaran akhir menuju garis finis. Dengan menahan emosi, Lakhsmi menarik Bungsu keluar dari gerai Tutti Fruiti agar kami tidak menjadi pemandangan gratis orang-orang yang hilir-mudik di sana dengan lampu sorot yang menyinar terang ke kami.

Bungsu nggak suka diomelin Lakhsmi, dia mulai mencari-cari saya. Biasa deh, saya selalu tempat tong sampah kalau anak-anak lagi korslet dengan ibunya. Bungsu mulai mengais-ngais kaki saya, minta digendong. Tangannya tinggi terulur minta dikasihani. Matanya berkaca-kaca penuh air mata dan mulutnya berteriak frustrasi, “Tante Mami gendong! Gendong! Pokoknya gendong! Tante Mamiiiii!”

“Iya, iyaaa, Sayang. Iyaaa!” Tak tegalah saya, maka saya menggendong dia. Waktu saya menoleh ke arah Lakhsmi, dia lagi ketawa gila-gilaan. Ada apa gerangan? Oh, kata Lakhsmi, saya udah mirip ibu-ibu dalam tokoh Desperate Housewives. Tangan kanan menggendong balita, dengan tiga tentengan belanjaan, sementara tangan kiri memegang mangkuk yogurt. Saya sudah menjadi aktrobat sirkus waktu Bungsu meminta dengan manis, “Suapin yogurt nya dong, Tante Mami. Gendongnya yang enak, aku merosot nih!” Sambil ngakak terus-menerus, Lakhsmi mengambil beberapa barang belanjaan di tangan saya sehingga saya bisa lebih bebas menggendong Bungsu sambil berjalan menuju mobil dan menyuapkan yogurt pada saat bersamaan.

Hebat kan? Punya anak memang luar biasa!

@Alex, Rahasiabulan, 2009

12:00 AM

Pintarnya si Bungsu

Posted by Anonymous |

“Tante mami, aku dong punya pe-er,” kata si bungsu sambil memamerkan lembaran pe-ernya.
“Sini, Tante bantuin,” kata saya.
Si bungsu mengeluarkan pensil dan krayon, serta penghapus. Ia bersiap-siap dengan manisnya.
Lembar pertama dikeluarkan dan ternyata pe-ernya adalah “menggambar” angka lima. Ya, dia bilang dia menggambar angka, bukan menulis. Yang dia lakukan sebenarnya cuma mengikuti garis titik-titik yang membentuk angka lima.

Dia girang bukan kepalang bisa menulis, eh, menggambar angka lima itu sampai tidak mau saya bantu bahkan untuk menghapus coretan yang salah. Jadi tugas saya dalam membantunya membuat pe-er adalah hanya melihatnya. Ketika akhirnya pe-er angka lima itu selesai, kami pun melakukan kegiatan favorit kami berdua. Nonton TV! Yay, Disney Channel here we come!

Keesokan harinya, si bungsu sudah mengibar-ngibarkan lembaran pe-ernya ketika saya pulang. “Dia nungguin kamu tuh buat bikin pe-er,” kata Lakhsmi.
Pe-ernya kali ini adalah “menggambar” huruf “T”. “T for Tiger,” kata si bungsu.
“Ya, T for Tiger,” jawab saya.

Dan sama seperti kemarin, si bungsu juga hanya menjadikan saya sebagai pelengkap. Dia tidak mengizinkan saya membantunya sama sekali. Seakan-akan dia cuma pamer ke saya bahwa dia punya pe-er, seperti kakaknya, dan menunjukkan bahwa dia sudah besar. Karena hanya anak-anak besar saja yang punya pe-er. Lalu bedanya dengan kemarin, malam itu kami nonton Nickelodeon.

Tiba-tiba ketika sedang menonton SpongeBob, si bungsu turun dari sofa dan mengambil lembaran kertas lain dari antara mapnya. “Tante Mami, lihat!”
“Waaaaw,” saya berseru. “Gambar siapa nih?”
Si bungsu memperlihatkan gambar Princess yang sudah diwarnai.
“Ini Cinderella, masa Tante nggak tau?”
Saya hanya nyengir lebar. “Bagusnyaaaa...,” kata saya.
Si bungsu ngacir lagi ke tempat duduknya bersama si sulung. Duduk di sofa bersama menonton acara TV.
“Itu buat Tante Mami,” kata si bungsu. “Ambil aja, biar tau Cinderella.”

Lakhsmi yang kebetulan berada di meja makan hanya mengulum senyum ketika saya memandanginya sambil tak bisa menahan cengiran. Kata siapa anak balita nggak lebih pintar daripada orang dewasa? Buktinya dia bisa menulis eh menggambar angka lima dan huruf "T" sendiri, sementara saya saja tidak tahu yang mana Cinderella.

@Alex, RahasiaBulan, 2009

10:42 AM

Hari Minggu

Posted by SepociKopi |

Ada bahasa yang tidak bisa diucapkan dalam kata-kata. Bahasa tubuh, salah satunya. Atau bahasa yang terpendam di dalam hati, membuatnya bersesakan dan menjadi melodramatis. Dia mengubah hati menjadi wujud yang tidak bisa lagi kupahami. Tidak ada kata-kata yang dapat kuandalkan untuk mewakili bahasa itu.

Ini hari Minggu, harinya bersama anak-anak menuju mal. Aku sudah melihat senyum Alex ketika bermain bersama Bungsu pada pagi hari. “Tante Mami, aku mau minum” kata Bungsu merengek. “Kemarin aku berenang sampai ke ujung, Tante Mami!” kata Sulung bangga. Aku senang dengan senyum itu; senyum familiar yang ada dalam setiap hari-hariku. Senyum yang terasa nyata dan membuat jam-jam yang kumiliki terasa masuk akal. Senyum yang menopang kewarasanku.

Seperti biasa, anak-anak rebutan siapa yang duluan keluar dari pintu rumah dan jantung kami serasa berhenti berdenyut melihat dua anak berusaha memuatkan dua tubuh mereka di celah pintu yang terbuka baru setengah. Kami menjerit tidak sadar. Inilah parahnya memiliki dua mami, karena dua-duanya cenderung menjadi cerewet. Suara feminim yang khas memenuhi udara sampai-sampai aku terkadang tidak tahan. “Say, kayaknya harus ada yang bersikap seperti para ayah deh, bersikap seperti bapak-bapak kebanyakan.” Kami berdua tertawa karena sama-sama menyadari kami sulit bersikap seperti “bapak-bapak” dalam satu keluarga.

Isu dua mami ini seringkali mencemaskanku. Misalnya, Bungsu sudah sangat terbiasa mendengar suara perempuan dan disentuh oleh perempuan daripada lelaki, sehingga kalau berhadapan dengan lelaki dewasa, dia selalu menjerit protes dan tidak pernah mau berdekat-dekatan. Sepertinya ada yang salah dengan kehadiran lelaki di dunia Bungsu. Memang beruntunglah kanak-kanak yang memiliki dua mami karena mereka mendapatkan cinta double ibu, tapi bagaimana dengan kecemasan khas ibu yang berlebihan? Satu saja sudah parah, bagaimana dua? Hahaha. Itulah mengapa saya sering kali menyuruh Alex untuk lebih tenang, jangan ikut-ikutan histeris kalau aku sedang panik berat khas emak-emak. Kasihan juga anak-anak yang hanya bisa bengong melihat dua maminya freaking out.

Akhirnya aku menyetir dengan Sulung berada di sebelah kiriku dan Bungsu di belakang bersama Alex. Kami menuju Senayan City. Sulung yang sudah besar di-drop di Lollypop, tempat permainan “anak-anak gede” (istilah Bungsu). Kami bertiga pergi ke toko buku dan Time Zone. Bersama Bungsu, kami bermain basket, lempar bola, ketokin buaya, dan naik mobil-mobilan.

Saatnya makan siang, dan Bungsu mogok makan karena tidak mau makan tanpa kehadiran kakaknya yang masih asyik bermain di Lollypop. Butuh waktu sesaat untuk membujuknya, apalagi dia tidak mau bergeser dari gerai es krim. Setelah bolak-balik janji ini-itu kepadanya, akhirnya Bungsu memilih HANYA MAU makan bakmi. Bakmi selalu menjadi urusan yang menggelikan, sebab anak ini doyan sekali bakmi. Dia selalu mengingatkanku ketika aku hamil dan ngidam berat bakmi selama berbulan-bulan.

Alex dan Bungsu duduk berdua, makan bakmi dengan asyik. Saling menyuapkan bakmi dengan sumpit dan tertawa-tawa. Aku menatap mereka dengan takjub, rasa kebahagiaan berjingkat-jingkat memenuhi hatiku sampai-sampai aku tidak sanggup berkata apa-apa. Alex menoleh, menangkap mataku yang sedang memandangnya. Kami bertatapan membiarkan bara itu menyala dengan percikan keras.

Matamu menguntitku ke mana aku melangkah bahkan sampai ke jurang samudra terdalam. Tanganmu merentang memegang rahasiaku yang tercatat pada helai hati. Ingatlah malam berabad-abad yang kita miliki, sewaktu mimpi kita mengejar bintang atau kelaparan yang kita takutkan. Aku lebih suka bersamamu menyisiri gang-gang kosong penuh darah dan lumpur. Sayang, aku selalu membiarkanku tersesat untuk menemukanmu kembali. Sebab katamu, aku adalah yang beruntung menjadi sahabat terbaikmu yang kau jatuh cintai habis-habisan.

Di mobil, anak-anak kembali ribut nggak jelas. Dalam badai keriuhan itu, aku melirik ke kaca spion dan kembali menemukan mata Alex di sana sedang menatapku. Seperti kataku tadi, ada bahasa yang tidak dapat diucapkan dalam kata-kata. Ada kata-kata yang tak dapat dijadikan bahasa, karena kata-kata itu sebenarnya sebentuk ciuman yang kehilangan bibirnya. Aku mengangkat daguku agar bisa melihatnya dengan lebih jelas. Melalui cermin, kubalas tatapan Alex. Dalam keriuhan, kami berciuman.

@Lakhsmi, RahasiaBulan, 2009

9:14 PM

Aku Lapar, Mommy

Posted by Anonymous |

“Mommy, aku lapar.”
“Ya, tunggu sebentar ya, bentar lagi kita makan.”
Bersama si bungsu, kami sedang dalam perjalanan singkat dari luar kota yang jaraknya cuma 1-1,5 jam. Rencananya kami memang akan mencari restoran baru, tempat kami akan melakukan sedikit wisata kuliner.

Well, ternyata wrong idea membawa anak balita wisata kuliner.

Sebenarnya bukan salah si bungsu karena dia lapar, dan dua orang dewasa yang mengaku sebagai mommy-nya tidak cukup cerdas untuk membawakannya camilan. Sudah tahu perjalanannya jauh, mestinya kami menyiapkan apalah untuk dimakan.

Ditambah lagi jalanan yang malam itu ternyata macet, makinlah kami jadi gelisah. Makan malam yang seharusnya dimulai pukul enam sore tampaknya bakal bergeser setengah jam ke kanan, malah mungkin lebih.

“Akuuuu lapaaaaar.” Kali ini pernyataan lapar itu disenandungkan si bungsu.
“Ya, ya, sabar ya, Nak.”

"Lapar, Mommy."

Jeda.

"Mom, aku lapar."

Pak sopir kami juga jadi keliatan gelisah setiap kali si bungsu menyebut kata, “lapar” dalam berbagai versinya setiap lima menit sekali.

Tapi kata keramat itu tidak terucap dan kami diselamatkan sejenak oleh Kuburan. Iya, kuburan. Bukan kuburan beneran, tapi grup musik itu. TV di dalam mobil menampilkan video klip Kuburan, Lupa-Lupa Ingat. Mendengar intronya, si bungsu langsung bilang, “Aku suka lagu ini, Mommy.”

Dan jadilah dia ikut bernyanyi, “Lupa... Lupa, lupa, lupa. Lupa lagi syairnya.”
“Ingat... ingat, ingat, ingat... Ingat lagi kuncinya.”

Selama sekian menit lagu itu tampil, kami bernapas lega karena si bungu teralih perhatiannya. Malah kami sempat tertawa-tawa riang.

Ah, tapi kami salah. Kelegaan itu cuma semu.

Tidak sampai tiga menit setelah lagu itu habis, si bungsu mulai lagi dengan pernyataannya. “Mommmyyyyy, akuuuuu lapaaaaar...”

Saya dan Lakhsmi hanya bisa saling menghela napas mendengarnya. Belum sempat kami menjawabnya, kami tertawa ngakak ketika si bungsu bernyanyi, “Lapar... lapar, lapar, lapar...” dalam nada lagu Lupa-Lupa Ingat.


@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:05 AM

Main Bubble Bath Yuk

Posted by Anonymous |

Si bungsu sakit. Dia demam. Tubuhnya begitu lemah dan hanya mau nempel dengan Lakhsmi. Buru-buru saya mengambil termometer. Panasnya 39,5 derajat Celsius. Kami berdua dilanda kepanikan.

“Say, ambil kompres.” Lakhsmi memberi perintah.
Saya menyiapkan kompres sementara si bungsu berada dalam pelukannya. Mungkin karena sakit dan nggak nyaman, si bungsu menolak dikompres. Dia mendorong kain kompres menjauh lalu mulai menangis.

“Duh, gimana nih, Say?” Saya panik, biasa emak-emak mode on.

Lakhsmi masih berusaha mengompres si bungsu yang mengelak kain basah ditempelkan di tubuhnya.

“Gimana nih, Say?” emak-emak mode on makin menjadi-jadi.

Mendadak Lakhsmi menemukan ide brilian abad ini, “Kita bubble bath yuk,” katanya pada si bungsu. Anak yang panas tinggi bisa diturunkan suhunya dengan direndam ke dalam air hangat.
“Nggak mau!” katanya sambil menggeleng keras.
“Yuk, bubble bath di bathtub,” kata saya menambahkan. “Kita berenang.”

Anak itu, masih dengan tatapan sayu, menggeleng penuh semangat.

Lakhsmi menggendong paksa anak itu dan membawanya ke bathtub walaupun dia meronta-ronta. Saya menelanjanginya sementara Lakhsmi mengisi air hangat di bathtub lalu menuangkan sabun ke dalamnya.

Awalnya si bungsu masih protes, tapi melihat busa sabun yang meriah dia malah mulai tertawa-tawa. Justru makin lama dia malah nggak mau keluar dari bathtub. Dasar anak-anak. Besoknya dia bilang begini, "Tante mami, aku mau sakit aja. Biar bisa bubble bath lagi."

@Alex, RahasiaBulan, 2009
PS: Si bungsu sudah sembuh sekarang, thanks atas perhatiannya.

8:06 PM

Saya dan Kopi

Posted by Anonymous |

Belakangan ini yang namanya warung kopi modern pasti bisa ditemukan di setiap mal yang ada di kota besar Indonesia. Kopi bukan lagi jadi minuman warung, sebagaimana bisa ada istilah warung kopi. Ah, tapi saya mesih suka menggunakan istilah warung walaupun lokasinya berada di mal atau di kedai-kedai tepi jalan yang populer.

Saya tidak bisa berbagi kenikmatan minum kopi ini dengan Lakhsmi, karena dia bukan peminum kopi. Baginya kopi adalah minuman penyiksa lidah yang cuma memberi rasa pahit. Minuman yang dipilihnya di warung kopi modern pun kopi “rasa banci” demikian saya menyebutnya. Yang isinya lebih banyak krim atau susunya dibanding kopi. Lakhsmi lebih suka menikmati yogurt ala Sour Sally sementara saya pasti meleletkan lidah jika mesti makan yogurt... nggak macho deh makan yogurt stroberi dengan buah kiwi dan mochi di atasnya. Halah :)

Entah siapa penemu minuman ini, yang pasti saya berterima kasih padanya karena telah membuat manusia mencicipi kenikmatan rutin kedua setelah seks. :p Nggak bahas seks ya kali ini... kembali ke kopi.

Partner biasanya tahu kebiasaan saya ini. Sori, nggak bisa diajak ngomong beneran. Kepala pusing. Ngantuk berat. Semuanya menjadi alasan kalau kerongkongan saya belum dialiri kopi seharian. Kecuali diganti dengan kegiatan seks gila-gilaan sehingga saya lupa ngopi, lain daripada itu tak ada alasan yang cukup kuat untuk membuat saya tidak ngopi sehari.

Di kota mana pun saya berada, jika saya harus menginap di sana, kopi menjadi minuman yang harus dicicipi. Pendiri Starbucks pasti merasakan sensasi kopi yang menggetarkan saat dia menikmati espresso di kedai kopi di Italia sehingga memutuskan “memindahkan” kedai kopi itu ke Amerika.

Selain itu mulai dari kopi instan, kopi tubruk, hingga kopi racikan kedai mewah yang harganya bisa bisa membeli berenceng-renceng kopi Kapal Api semuanya memberi tujuan yang sama. Afrodisiak... Maksudnya, efek perangsang otak bukan pembangkit "gairah". Sel-sel kelabu di otak saya bergerak selambat sperma yang berenang menuju sel telur jika belum kena kopi.

Saya tidak pernah bermasalah dengan partner yang tidak paham dengan “apa sih enaknya kopi?” Menurut saya, menikmati kopi adalah kenikmatan yang sifatnya masturbasi, karena bagaimanapun kamu menikmatinya sendirian. Nggak perlu sampe berantem kok kalo pasangan nggak suka kopi. Tapi yang terpenting adalah, “I like my woman, how I like my coffee... hot and gotta have it everyday.”

@Alex, SepociKopi, 2009

9:09 AM

Sindrom Rentan Tiga Tahun

Posted by Anonymous |

Belakangan ini kesibukan di pekerjaan, jadi redaktur di SepociKopi, dan pernak-pernik hidup lainnya membuat saya jarang mengupdate blog. Bukan karena nggak cinta lagi atau nggak sayang lagi, cuma karena ya gitu deh... sibuk, bo! Alex paling jagoooo deh bikin alasan, hehehe.

Lakhsmi bilang dia baca di mana gitu bahwa rata-rata hidup blogger tuh tiga tahun. Ini tahun ketiga saya nulis di blog ini, dan jujur aja terkadang saya mulai kehilangan dorongan menulis, walaupun inspirasi itu masih kuat menggebu. (Lemah syahwat dong ya? :p) Saya bilang ini namanya Sindrom Rentan Tiga Tahun.

Tiga tahun dalam hubungan manusia biasanya masa ketika hubungan juga rentan. Hubungan makin stabil, monoton, dan kobar-kobar asmara yang membakar pada bulan-bulan pertama hubungan mulai redup. Terutama dalam hubungan lesbian yang berkonsep "pacaran". Maksudnya ya, cuma ketemu pada saat-saat tertentu, seminggu sekali atau beberapa kali. Mau ngapain kita malam minggu ini, Sayang? Makan di mana kita, honey? Mau nonton apa, cinta? Pola pacaran tak berujung semacam ini, yang awalnya manis dan romantis, berujung pada pertanyaan "Mau di bawa ke mana hubungan kita?"

Sering kali jawaban itu tak ada jawabnya atau jawabannya hanya, "Ya, kita jalani aja seperti air mengalir."

Well, sistah, bahkan air mengalir pun ada muaranya.

Ketidakjelasan muara plus kejenuhan hubungan ini sering kali membuat orang melirik ke arah lain, melihat sosok yang bisa membangkitkan percik-percik semangat. Tidak, saya tidak menyarankan untuk berselingkuh. Itu bukan pilihan bijak.

Lingkaran pacaran-putus-patah hati-cari pacar baru yang berulang-ulang tanpa kejelasan ini tidak hanya melelahkan tapi juga membuat depresi. Salah satu pilihan yang setelah dianalisis, dicek dan ricek, dan ditelaah yang bisa memberi memtuskan mata rantai tak berujung ini adalah; sudah saatnya lesbian memikirkan dan memutuskan kemungkinan hidup bersama dengan pasangannya. Saatnya memutuskan mata rantai itu dan katakan tidak ada narkoba. Halah!

Gampang aja lo ngomong, Lex. Lo mah enak... Ya, ya, jangan sinis dulu, sayang, memang tidak mudah kok. Masing-masing lesbian yang bisa memutuskan "bagaimana" caranya hidup bersama pasangannya. Pintar-pintarnya kamu untuk mencari memanfaatkan celah itu. Tiap kasus itu unik, dan sekecil apa pun kemungkinan itu, mulailah memperbesarnya dengan menemukan caramu sendiri. Dan nggak ada yang bilang bahwa caranya akan mudah. Tanpa perlu mengkhayalkan kemungkinan civil union atau same-sex marriage di Indonesia, cobalah pikirkan kemungkinan hidup bersama. Bukan dengan cara memaksa, tentunya. Dan saya juga tidak menyarankan coming out lalu kabur dari rumah jadi gembel melarat di kontrakan kumuh dengan tikus segede gaban yang ikut numpang di kontrakan. Kalian pasti lebih pintar daripada itu, bukan?

Jika pepatah menyatakan, "Rumah adalah tempat hatimu berada." Tanyakan pada dirimu sendiri, di mana rumah dan hatimu berada? Hidup bersama memberikan "rumah" sebagai tempat bernaungnya dua hati, bukan hanya kontrakan tiga tahunan. Dan kebersamaan hidup dengan pasangan memberikan kenyamanan serta rasa aman yang membuat hati itu tumbuh dan berkembang. Berdua. Bersama. Selamanya.

@Alex, RahasiaBulan, 2009
PS: Saya masih akan terus nulis kok, karena blog ini tempat saya bercerita banyak tentang rumah hati saya.

10:44 PM

Mirip si Kecil

Posted by Anonymous |

Ketika membongkar-bongkar foto lama, saya menemukan foto saya masih balita. Yah, kira-kira foto saya seumuran si bungsu sekarang. Ketika melihatnya, saya terkejut... kok saya mirip si bungsu ya? Ah, saya menepis pemikiran itu. Maklum deh, mami-mami memang sering berpikir seperti itu. Sok bangga dengan kemiripan dengan anaknya.

Lalu saya memperlihatkan foto itu ke Lakhsmi. “Say, lihat deh fotoku...”
Lakhsmi membelalak, “Hah, kok mirip banget sama si bungsu?”
“Beneran?”
“Iya...”
Ah, saya juga nggak percaya sama Lakhsmi, pasti ini salah satu asbunnya... :p

Saat itu pembantu kami lewat, dan saya memperlihatkan foto kecil saya padanya. “Aduh, dari tadi saya kirain ini fotonya si bungsu lho, Non. Mirip banget.”
Mendengar itu, Lakhsmi memandang saya dengan tatapan, gue-bilang-juga-apa-nggak-percaya-sih.

“Heran deh, si bungsu kok bisa mirip kita ya, beib?”
Lakhsmi mengangkat bahu, lalu tersenyum dan berkata, “Mungkin karena kamu maminya juga.”
Saya tersenyum manis sekali mendengar jawabannya.

Saya jadi teringat adegan tidak lama sebelum ini, ketika kami sibuk memilih goody bag untuk ultah si bungsu. Barbie atau princess? Hello Kitty atau Winnie the Pooh? Ribet dan rusuh. Sementara si bungsu sibuk main dengan telepon-teleponan Hello Kitty. “Hawoo? Hawoooo?” katanya.

Dua maminya nggak sempat memperhatikan karena habis itu kami sibuk memilih kue. Strawberry Shortcakes atau Cars? Hah? Cars? Nggak salah anak perempuan kuenya Cars?
“Beib, dia suka Cars,” kata saya.
“Yang bener?” tanya Lakhsmi.
“Iya.” Saya mengangguk membenarkan.
Si mbak yang melayani kami memandang kami bergantian lalu bertanya lugu, “Mamanya yang mana sih?”
Gantian saya dan Lakhsmi jadi saling memandang lalu tertawa terbahak-bahak. Hampir kami menjawab, “Dua-duanya maminya!”
Tapi daripada si mbak pingsan di tempat, saya menunjuk Lakhsmi. “Ini maminya. Saya tantenya.”
Si mbak tersenyum, “Saya kita Ibu yang maminya... soalnya tau banyak sih.”
Kembali saya dan Lakhsmi tertawa ngakak, yang hanya bisa kami mengerti artinya.

Akhirnya setelah memilih-milih kue dan goody bag, kami menemukan si bungsu masih main telepon Hello Kitty dan tidak mau melepasnya. Tanda minta dibelikan... hehehe. Akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan telepon Hello Kitty itu sebagai hadiah ultahnya. “Buat telepon Tante dan Mami kalo di kantor,” katanya.
Bagaimana kami bisa menolak membelikannya kalau si bungsu bilang begitu, coba?

@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:31 AM

Tanda

Posted by SepociKopi |

Ada lipstik di sepraiku. Aku tahu ada lipstik di sepraimu. Aku berguling di ranjang sementara jari-jari halusmu menjelajahi pundak telanjangku. Salah siapa kalau lipstik itu berbekas? Aku mau mengelapnya tapi tidak sempat. Kau mendesakku – kelembutan yang penuh tenaga, mengunci tubuhku di sepanjang sisi sampai aku tidak mampu bergerak dalam pelukanmu. Pagi itu bukan hanya lipstik yang tertinggal di sana, tapi aroma tubuhmu menempel di sekujur kulitku.

Aku pernah meninggalkan noda lipstik di bahu kemejamu kala kita berpelukan. Noda merah jambu tampak samar-samar sebenarnya, kecuali kalau seseorang berdiri agak dekat denganmu. Dalam hati aku berharap seorang teman kantormu memperhatikan dan memberi komentar isengnya.

Komentar yang sudah pasti akan mengantarkanku sebagai si tertuduh dengan rasa yang menyenangkan bagi kita berdua.
Tapi mereka tidak pernah berkomentar tentang lipstik itu. Mereka berbicara tentang dompetmu yang pernah tertinggal di sana. Mereka berbicara tentang foto anak-anak yang memenuhi meja kerjaku. Mereka berbicara tentang bunga yang pernah kau kirim ke kantor. Mereka berbicara tentang benda-benda hadiah untukku; Valentine, ulangtahun, Natal, dan hari apa saja yang menurutmu menjadi hari kejutan. Mereka berbicara tentang hari-hari liburan kita yang sering kusebut sebagai honeymoon.

Mereka menggodaku tentang telepon gila-gilaanmu. Itu sama saja bukan? Itu berarti mereka melihat jejak-jejakku pada dirimu. Pikirkanlah. Aku sering memikirkan hal ini. Aku tidak hanya bersama di sisimu saat kita berdua, tapi juga aku bersamamu dalam setiap detik kesendirianmu. Aku mencecap hal yang sama. Kau menggerayangi duniaku tanpa malu-malu. Menawanku seperti caramu menawanku di ranjang. Lihat saja ruang kerjaku. Isinya penuh kamu. Buku-bukumu. Berkas kerjamu. Pulpenmu. Foto kita berdua. Catatan-catatanmu. Surat cintamu yang berceceran di berbagai tempat; tentu kusembunyikan dengan hati-hati.

Tapi Sayang, bukan itu yang paling penting. Semua yang terlihat oleh mata telanjang hanya sekadar benda padat yang secara fisik dapat lenyap dengan mudah. Kau dapat menghapus lipstikku dengan tisue. Aku dapat menyingkirkan foto-fotomu. Kau dapat mencampakkan hadiah-hadiahku di tong sampah. Aku dapat membakar surat-surat cintamu dalam kalapku. Setelah semuanya pergi, akankah aku... oh, akankah kau lenyap begitu saja? .

Apa boleh buat, aku tak dapat dienyahkan. Keberadaanku lekang dalam hatimu; aku hidup di sana. Di kepalamu penuh aku. Siapa yang memiliki kontak denganmu pasti melihat bayanganku pada dirimu. Kau membawaku ke mana-mana, malaikatku. Aku menjelajahi tempat-tempat yang kau datangi sendirian. Aku mendengar degup jantungmu di tengah celotehanmu dengan orang lain. Aku meraba kegelisahanmu, kegembiraanmu, kesedihanmu; aku menguping kekacauanmu, kerumitanmu. Aku melompati pikiranmu; menggerayangi kemarahanmu; memerkosa kecemburuanmu. Aku mengetahui hal-hal tersembunyi yang abstrak dilukis lewat kata-kata. Aku mencium bibirmu dengan gairah saat kau melirik pada perempuan berkaos itu yang lewat di sampingmu.

Singkatnya, aku memiliki telepati; telepati kedekatan antara dua orang yang tak memiliki jeda apapun di antaranya. Bukannya kau tahu aku seperti itu juga? Bahwa aku berada pada dirimu, merumah di sana, memeluk tubuh telanjangmu setiap saat. Aku uring-uringan kala kau diam-diam menyembunyikan kejengkelan tentang sesuatu. Aku patah hati kala kau berusaha keras tidak membunuhku. Aku memikirkan hal-hal yang buruk kala kau berahasia tentang perempuan itu. Aku menyentuh dadamu, menyetubuhimu kala kau berbaring sendirian melakukan tarian masturbasi. Kita berdua terkoneksi seperti langit dengan hujan. Aku menjembatanimu. Di antara mimpi dan labirin.

Di antara matahari dan garis kathulistiwa. Pagi ini ketika kau berkata ada lipstikku di sepraimu, aku tergenapi. Berkat ucapanmu, rasanya tubuhku menjadi semakin baik. Bara di dadaku berhenti menghangus. Matahari tidak menjadi basi lagi. Aku tidak pernah takut lagi kehilanganmu karena bagaimana sesuatu dapat hilang kalau aku tahu dia selalu ada di sana? Aku tidak akan asing sebab aku menandaimu. Kau tidak terselip seperti daun di ranting; tak tercecer seperti bulan yang menyabit. Malaikatku, kapan-kapan kutinggalkan lagi lipstik di sepraimu setelah kita selesai bercinta dini hari yang remang. Kau dapat memulai kerja dengan mengirimku selarik SMS yang mendatangkan bintang buatku. Ada lipstik di sepraiku.

@Lakhsmi, RahasiaBulan, 2009

9:24 AM

Alex Memutuskan Mati

Posted by Anonymous |

Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.

Kejadian 2:17

10:34 PM

Si Nakal

Posted by Anonymous |

Si Nakal. Kadang-kadang kami menyebut dia seperti itu. Badungnya nggak ketulungan si bungsu ini. Nakal, badung, keras kepala, persis maminya :)). Pokoknya saya (kadang-kadang) harus jadi penengah antara maminya dan si bungsu yang adu keras. Udah biasa gitu menghadapi maminya... jadi versi mininya (seharusnya) udah bisa di-handle deh, walaupun kenyataannya sering kali saya yang teraniaya atas-bawah, hahaha.

Jadi ingat satu cerita lucu soal kaus kaki. Sekali waktu si bungsu nggak mau pakai kaus kaki sebelum tidur. Dia menarik lepas kaus kakinya. Lalu maminya memakaikannya lagi. Begitu terus sebanyak 3x, hingga akhirnya si bungsu menyerah. Dalam hati saya yakin si bungsu tidak menyerah sungguhan. Ternyata... Tuh betul, kan? Beberapa jam kemudian, ketika si bungsu sudah tidur, Lakhsmi bertanya, “Say, mana kaus kakinya si bungsu?” Tangannya meraba-raba dalam gelap.
“Nggak tau... terakhir liat sih masih di kakinya,” saja menjawab cuek.
“Nggak ada...!”
“Ada!”
Lakhsmi meraba-raba lagi, kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Dia menemukan kaus kaki itu. Di mana? Hayo tebak...! Ternyata kaus kaki itu memang masih dipakainya... di kedua tangan. Huahaha... Ada-ada aja, kan?

Well, sebenarnya nggak mau cerita soal nakalnya kali ini. Tapi lebih tentang kekaguman dua maminya terhadap anak ini (lebih ke kekaguman tante maminya sih :p).

Beberapa hari lalu, Lakhsmi ber-chat dengan saya ketika saya sedang di kantor, sementara dia mengambil cuti sakit.

Lax: Tadi si bungsu pinter deh...
Lex: Knp?
Lax: Dia gambar doggie bagus banget.
Lex: Oya? Ntar pulang kuliat ya. Simpen gambarnya nggak?
Lax: Simpen dong.
...(5 menit kemudian)...
Lex: Beb...
Lax: Ya?
Lex: Fotoin dong gbrnya... Nggak sabar nih mau liat... nanti bebein ke aku.
...(5 menit berlalu)
Lex: Wuaaaaaaaaaah gbrnya bagus amat? (Hm... buat saya masterpiece deh :))
Lax: iya, bagus ya... aku mau simpen gk boleh sama dia...
Lex: Jadi?
Lax: Udah dicoret-coret krayon (Versi yang saya lihat masih goresan pensil dgn wujud anjing yang jelas)
Lex: Gk kamu larang?
Lax: Bisa dilarang dia?
Lex: Hahahaha :))

Malam harinya ketika saya menemui si bungsu, dengan wajah manis dia menjawab, “Gambar apa? Dogi apa? Ga ada dogi,” ketika saya bertanya, mana gambar doginya. “No dogi. I want to watch TV.” Untungnya Lakhsmi sudah menyelamatkan gambar yang udah tidak jelas wujudnya. Coretan-coretan pensil yang “dulunya” bergambar anjing yang wajah dan tubuhnya diwarnai krayon merah dan hijau. Mesti pake tatapan laser untuk bisa melihat dengan jelas.

Mungkin ini yang namanya kebanggaan orangtua ya. Pokoknya apa pun yang dilakukan oleh anak yang kelihatannya “lebih” sedikit udah membuat hati membuncah bangga. Coba lihat isi henpon, isinya foto-foto anak dalam berbagai pose dan karya-karyanya.... :)

@Alex, RahasiaBulan, 2009

2:20 AM

Istri yang Penurut

Posted by Anonymous |

Menurut gosip yang beredar dan sampai ke telinga saya, konon Alex adalah istri yang penurut. Hahaha... pertama mendengarnya saya agak kesal gitu. “Maksud???” Saya langsung ngoceh-ngoceh nyerocos seperti layaknya istri yang tersinggung pada Lakhsmi.

Memangnya saya nggak punya prinsip sendiri, gitu? Atau saya dianggap sebagai boneka sementara pasangan saya adalah puppet master-nya? Orang yang ngomong begitu pasti tidak sungguh-sungguh kenal saya.

Kami berdua adalah sosok intelektual yang saling berdiskusi dan berdebat dalam kehidupan kami sehari-hari. Kami saling memengaruhi isi pikiran satu sama lain. Kami menghasilkan kesimpulan-kesimpulan ajaib dalam percakapan kami. Apakah itu berarti saya tidak pernah manut padanya? Atau dia tidak pernah hanya mengiyakan saja? Ya, jelas pernah.

Dalam kehidupan sehari-hari saya “membiarkannya” memilihkan tempat makan dan tempat liburan karena menurut saya dia tahu bagaimana menentukan yang terbaik daripada saya. Tapi untuk urusan memilih nonton film apa dan di mana, sayalah penentunya karena menurutnya saya lebih pakar untuk urusan ini. Masih banyak lagi keputusan-keputusan yang dibuat dalam konsep bergantian seperti ini. Bahkan urusan anak pun kami tangani dengan cara kami masing-masing.

Setelah beberapa hari kemudian saya pikir-pikir lagi soal “istri yang penurut” ini. Memangnya ada yang salah dengan sesekali menjadi istri yang penurut? Menjadi istri yang penurut saya rasa jauh lebih sukar daripada menjadi istri yang bertingkah atau jadi istri yang mau kelihatan lebih pintar atau mau lebih melulu dibanding pasangannya.

Menurut saya menjadi istri yang penurut itu membutuhkan lebih banyak kerja keras dibanding jadi istri pembangkang. Apalagi dalam hubungan lesbian, yang dua-duanya jelas perempuan. Siapa yang ditempatkan jadi “kepala keluarga” kadang-kadang bisa bertukar peran. Justru di situlah letak nikmatnya....

Penurut tidak berarti takut pada pasangan atau menempatkan pasangan di posisi lebih lemah. Tapi di atas segalanya adalah rasa respek terhadap pasangan. Bagaimana mungkin bisa menuruti pasangan jika tidak punya rasa hormat terhadap pasangan kita? Rasa respek itu dengan sendirinya akan melahirkan kepatuhan yang terjadi secara alamiah. Perlu diingat pula bahwa respek adalah hal yang diperoleh secara timbal balik bukan muncul karena dijejalkan ke dalam hubungan.

Saya mendiskusikan pendapat saya ini pada Lakhsmi. Dan dia langsung menurutinya bulat-bulat tanpa membangkang. Apakah itu berarti dia istri penurut? Bukankah akan jadi capek kalau punya pasangan yang kerjanya protes dan mengkritik segala keputusan kita hanya karena dia mau menjaga gengsinya agar tetap kelihatan sok tough dengan tidak langsung menurut?


@Alex, RahasiaBulan, 2009

9:25 PM

Sini Muntahin, Tante...

Posted by Anonymous |

I

Lama meninggalkan blog ini membuat saya sulit bangkit lagi untuk mulai menulis. Rasanya otot-otot ini kaku dan malas. Saya sedang melamunkan masa hibernasi saya di blog sambil memandang ke luar jendela di mobil sambil memangku si bungsu.

Mendadak si bungsu bergerak. “Tante, nggak enak.” Saya pikir posisi duduknya yang nggak enak, jadi saya berdirikan dia, kemudian tiba-tiba, “Hoeeek... Hoeeek...” Oh man! Saya tidak bisa melesat kabur karena ruangan di mobil yang ngepas gini dan si bungsu juga melakukan serangan mendadak, jadi Lakhsmi tidak sempat meminggirkan mobil dan muntah di pinggir jalan, misalnya. Jadilah saya kelabakan membersihkan muntahan si bungsu yang mengotori wajah dan pakaiannya... juga pakaian saya.

“Huaaaaah, Tante...!” Si bungsu mulai menangis.
“Ada apa sih, Say?” tanya Lakhsmi yang sedang menyetir. Haloooooo? Nggak liat apa nih anak muntahin aku? Tapi maklum deh dia lagi nyetir jadi nggak bisa melihat kejadian historis di jok belakang.

Dibantu dengan si sulung yang mengeluarkan baju ganti dari tas untuk si bungsu dan berbagai perangkat lainnya, dengan sigap saya membersihkan muntahan si bungsu, mengganti bajunya, dan memberinya minum. Semua dalam waktu kurang dari lima menit. Hahahaha....

Belum sempat bernapas lega, bau semerbak bekas muntahan mengingatkan saya pada celana jins saya yang setengah basah kena muntahan, yang digosok-gosok pakai tisu satu pak pun tidak bisa hilang baunya.

“Buka jendela, Say,” saya memberi perintah pada Lakhsmi, agar bau semerbak muntahan itu bisa segera pergi. Dan hari itu berakhir hingga kami sampai di rumah dengan parfum muntah dari si bungsu.

II

Mobil sudah divakum, bersih cling dari muntahan keesokan harinya. Harinya makan di restoran. Si bungsu dengan penuh nafsu nyaris menelan telur puyuh bulat-bulat. Gawat! STOP! Jangan makan telur itu! Berdua kami nyaris berteriak bersamaan. Tentu kita tidak mau si bungsu tersedak telur puyuh, kan?

“Potong-potong dulu ya, sayang.” Si bungsu dengan asyik mengunyah nasi, sop, dan telur puyuhnya. Dengan santai saya, Lakhsmi, dan si sulung makan dengan tenang. Yuk, suapin lagi. Suasana tenang selama sekitar dua menit sebelum... “Tante...,” kata si bungsu. Saya melihat gelagat tidak baik. Mulutnya yang penuh makanan membuka, buru-buru saya refleks menadahkan tangan ke depannya, dan...

Keluarlah makanan yang dikunyahnya ke... tangan saya.

Huahahaha, kena lagi deh... tapi saya sudah tidak sempat berpikir selain langsung melakukan gerak refleks membersihkan-anak-yang-muntah.

Saya lap mulutnya, sementara Lakhsmi hanya nyengir memandang saya dimuntahkan lagi selama dua hari berturut-turut.

“Sayang, kayaknya bakal dapat rezeki gede nih kalo dua hari dimuntahin gini. Hahaha... Untung kali ini muntahannya tidak sampai kena baju, cuma kena tangan." Hehehe, ginilah emak-emak, dimuntahin tetap masih bisa bilang "untung cuma..." :))

@Alex, RahasiaBulan, 2009

10:36 PM

Pasangan Yang Sempurna

Posted by Anonymous |

Kamu tahu seperti apa malam sempurna yang romantis yang selalu kubayangkan? Aku membayangkan kamu, pasanganku, perempuan, duduk bersamaku berpelukan bersama di sofa dengan latar belakang suara Norah Jones atau alunan Chris Botti. Ruangan remang-remang. Kita bicara banyak tentang hariku dan harimu. (Jadi kita nggak boleh kerja di perusahaan yang bersaing :p) Atau kita tidak perlu bicara, hanya pelukan saja sudah cukup kok.

Aku kepingin bisa nonton Bioskop TransTV atau Box Office Movies-nya RCTI sambil kita cela-cela seperti malam ini nonton D-Wars, parah banget deh... hehehe. Atau nonton film bagus banget sampai kita nggak bisa ngapa-ngapain kecuali memandang layar. Atau kita bisa ganti channel ke acara gosip yang nggak penting, sembari kita bisa nyela-nyela orang yang menyebalkan.

Aku kepingin punya pasangan yang suka makan, karena bagiku itulah orang yang tahu menikmati hidup. Aku paling ogah punya pasangan yang makan hanya terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidup agar dia tidak mati. Malasnyaaa... bayangkan kalau kita di Hanamasa, bisa rugi blasss punya pacar seperti itu....

Kamu tahu seperti apa perempuan yang membuatku kelepek-kelepek, kan? Itu lho yang punya bakat ituuu... (nggak mau disebut di sini, nanti pada antre melamar aku karena merasa punya bakat ituuu.) Kamu tahulahh, betapa aku menikmatinya, huehehe... Dan percayalah, Sayang, tidak ada orang lain yang bisa menikmati bakatmu seperti aku menikmatinya. :))

Aku ingin perempuanku bukan penggemar kopi, karena kita butuh satu orang yang bisa berpikiran jernih di saat hari buruk. Kamu tahu bagaimana aku kalau tidak minum kopi setengah hari? Aku bisa seperti zombie di film Dawn of the Dead.

Aku ingin perempuan yang bisa membaca peta, karena aku bisa membuatmu tersesat. Aku bisa menunjukkan jalan padamu, tapi kamu yang harus menyetiriku sepanjang jalan. Dan di saat-saat tegang, aku nggak mau perempuan femme kelemer-kelemer pemarah... aku mau kamu, "my butch", yg tegas dan berwibawa, hahaha. :))

@Alex,RahasiaBulan, 2009

9:23 AM

Milk - Biopic Menggugah dari Seorang Tokoh Inspiratif

Posted by Anonymous |

Oleh: Alex

My name is Harvey Milk, and I'm here to recuit you. Itu adalah sepotong kalimat yang biasa digunakan oleh Harvey Milk (Sean Penn) dalam mengawali pidatonya. Film peraih Oscar ini diangkat dari kisah nyata hidup Harvey Milk, seorang politisi dan aktivis gay. Harvey Milk merupakan tokoh yang mengakui dirinya gay secara terbuka dan terpilih menjadi pegawai negeri di California sebagai anggota San Francisco Board of Supervisors pada tahun 1977, setelah dua kali gagal dalam pencalonannya.

Harvey Milk lahir pada tahun 1930 dan tewas terbunuh pada tahun 1978, setahun setelah dia menduduki jabatannya di pemerintahan dengan gemilang. Dia tewas ditembak di kepala oleh Dan White (Josh Brolin) sesama anggota dewan yang merasa dikhianati Milk. Penembakan yang terjadi di balai kota itu juga menewaskan Wali Kota George Moscone, yang juga sahabat politik Harvey Milk.

Milk disutradari oleh sutradara gay, Gus Van Sant, yang sudah dikontrak sejak tahun 1992 namun setelah sejumlah konflik dan kekacauan selama 15 tahun akhirnya sukses melahirkan film yang memperoleh sejumlah penghargaan bergengsi ini. Terutama untuk Sean Penn yang dengan gemilang berperan sebagai Harvey Milk. Selain Sean Penn mendapat piala Oscar sebagai aktor terbaik, penulis skenario Dustin Lance Black memperoleh penghargaan sebagai penulis skenario terbaik dalam film yang penuh dengan kata-kata inspirasitif. Milk juga bergelimang penghargaan lain seperti dari BAFTA Awards, Screen Actors Guild, British Academy Film Awards, dll.

Film tentang perjuangan aktivis gay ini dibuka pada tahun 1970 ketika Milk bertemu dengan Scott Smith (James Franco) di tangga subway New York. Milk dan Smith kemudian menjadi sepasang kekasih setelah pertemuan singkat tersebut. Keinginan untuk mengubah hidup dan memperoleh penerimaan membuat dua lelaki ini melakukan perjalanan bermobil hingga sampai ke San Francisco, menuju daerah Castro. Pada masa itu Castro mulai dikenal sebagai wilayah gay.

Harvey Milk yang memiliki jiwa bisnis membuka toko kamera di Castro, namun ketertarikannya pada dunia politik dan keinginannya yang kuat agar kaum homoseksual tidak lagi dianggap kelas dua membuatnya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai dewan supervisor San Fransisco. Milk percaya bahwa seorang homoseksual bisa menjalani hidup dengan jujur dan sukses, meskipun tahun 1970-an menjadi gay biasanya berarti hidup dalam ketakutan dan hinaan. Bahkan tidak jarang mereka menjadi korban kebencian dengan dipukuli atau bahkan dibunuh.

Milk secara terbuka mengakui dirinya gay, walaupun pada awal masa kampanyenya, isu gay ini membuatnya kalah dalam pemilihan. Dalam salah satu wawancara, Milk mengatakan. “If I do a good job, people won't care if I am green or have three heads." dan gay atau tidak bukanlah isu utama lagi. Walaupun tidak bisa dipungkiri kaum homoseksual membuatnya menang dalam pemilihan tahun 1977 dan juga menjadikan Harvey Milk memiliki bargaining power yang kuat dalam pemerintahan, karena dia tidak segan menggunakan komunitas gay sebagai massa penggeraknya.

Pawai Kemenangan Harvey Milk Saat Terpilih Jadi Anggota Dewan, 1977

Milk dan kebangkitan homoseksual ini tidak diterima begitu saja di Amerika Serika. Anita Bryant, penyanyi yang juga memimpin gerakan fundamentalis Kristen mengutuk keras kaum homoseksual. Hal ini menimbulkan perseteruan antara kaum homoseksual versus Kristen fundamentalis yang berujung pada pertikaian politik. Penyebaran kebencian terhadap kaum homoseksual dilawan dengan demonstrasi besar-besar yang diikuti oleh ribuan orang (gay/lesbian) secara spontan hingga mereka memenuhi jalanan sepanjang delapan kilometer. Di sana pula Harvey Milk menyampaikan salah satu pidatonya yang terkenal.

"Somewhere in Des Moines or San Antonio there is a young gay person who all the sudden realizes that he or she is gay; knows that if their parents find out they will be tossed out of the house, their classmates will taunt the child, and the Anita Bryant's and John Briggs' are doing their part on TV.

And that child has several options: staying in the closet, and suicide. And then one day that child might open the paper that says "Homosexual elected in San Francisco" and there are two new options: the option is to go to California, or stay in San Antonio and fight. Two days after I was elected I got a phone call and the voice was quite young. It was from Altoona, Pennsylvania. And the person said "Thanks".

And you've got to elect gay people, so that thousand upon thousands like that child know that there is hope for a better world; there is hope for a better tomorrow. Without hope, not only gays, but those who are blacks, the Asians, the disabled, the seniors, the us's: without hope the us's give up. I know that you can't live on hope alone, but without it, life is not worth living. And you, and you, and you, and you have got to give them hope." - Harvey Milk, 1978

Sebuah pidato yang menggugah tentang harapan, tentang masa depan yang lebih baik jika semakin banyak kaum homoseksual yang tampil ke muka publik. Visibilitas semacam ini penting untuk menunjukkan keberadaan gay/lesbian di muka bumi ini, sehingga entah di pelosok bumi belahan mana seseorang yang merasa hidupnya tidak berarti karena menyadari dirinya gay/lesbian akan memiliki pilihan hidup selain jalan yang tampak suram dan kesepian.

Harvey Milk mungkin sudah tiada, tapi warisan yang ditinggalkan olehnya tetap membara di hati jutaan masyakarat homoseksual di Amerika Serikat. Dan kini, jutaan mata dan hati berkesempatan untuk menyaksikan tokoh inspiratif ini melalui film yang menggugah dan (pasti) meninggalkan kesan di hati gay/lesbian yang menontonnya.

@Alex, RahasiaBulan, 2009

3:28 AM

When She's With Me

Posted by Anonymous |

Sayang, kamu tahu nggak sih seperti apa si bungsu saat berduaan bersamaku? Kalau saatnya menonton TV bersama, dia pasti akan menjerit-jerit memanggilku untuk duduk di sampingnya. Apalagi kalau dia sudah tahu bakal ada adegan seram seperti di Brother Bear atau Land Before Time. Yeah kalau sudah dekat di bagian yang ada mati-matinya itu, dia pasti akan menarikku lebih dekat dan menyelipkan kepalanya di lenganku, sambil sesekali mengintip ke layar televisi. Kadang-kadang kalau aku ketiduran saat menemaninya nonton, dia akan menepuk-nepuk pipiku (atau kadang sampai menampar) untuk membangunkanku. “Tante, tante, liat... liat Petrie!” Sambil tangannya mendorong-dorong wajahku supaya melihat TV.

Saat makan malam juga salah satu momen aku dan dia. Kamu tahu nggak dia nggak suka bagian tengah wortel, kecuali kita tipu dia dengan menghancurkannya? Hihihi. Lalu kalau makanannya sudah hampir habis, dia sering menipuku dengan bilang sudah kenyang lalu lari ke sofa. Kemudian aku harus menyuapinya di sana sambil dia lanjut nonton TV. Ah, anak ini maniak TV seperti tante maminya...

Hm, kamu tahu? Kalau di parkiran mobil, dia langsung memanjat ke tubuhku minta digendong. “The car's coming, Tante Mami.” Lalu sembari berjalan, biasanya aku dan dia akan ngobrol kecil, “Do you love, Tante?” Kadang kalau di hari baik jawabannya “Yes.” Lalu dia akan menciumku. Di hari nakal, dia akan bilang, “No.” Lalu dia akan geleng-geleng menggodaku. Tapi biasanya dia tidak pernah menolak kalau kubilang, “Kiss, Tante.” Dengan mulutnya yang basah dia akan mendaratkan ciuman di pipiku. Mwwuaaaahhh... Aku pernah bilang padamu, kan? Disayang oleh anak seperti ini rasanya seperti sungguh-sungguh disayang dengan tulus, dan membuat kita seperti habis menelan pil bahagia.

Sayang, kamu tahu nggak sih? Kalau di kantor tuh aku udah join “the mami-mami” club. Kami bicara soal preschool, makanan balita, di mana membeli goodie bag untuk ultah anak, susu anak, imunisasi, dan entah apa lagi. Oya, mendadak ingat, si bungsu pernah beberapa kali meneleponku saat kamu tidak di rumah? Cuma untuk bertanya, “Tante Mami kapan pulang? Aku mau nonton DVD Strawberry Shortcakes nanti sore... Cepetan pulang ya nanti. Nggak boleh lama-lama di kantor.” Begini mungkin rasanya punya dua mami. Ada satu mami lagi yang selalu siap diberi perintah oleh our little princess.

@Alex, RahasiaBulan, 2009

Subscribe