10:23 PM

Ketika Menjadi Ibu Menjadi Pilihan

Posted by alex |

Ada peraturan baru yang tidak tertulis di perusahaan tempat saya bekerja. Dalam peraturan terdahulu, perusahaan menanggung “biaya” anak yang dimiliki oleh karyawan, baik itu karyawan pria atau perempuan. Biaya di sini maksudnya biaya pengobatan dan bantuan pendidikan sekadarnya. Dalam peraturan yang baru, secara tidak tertulis dinyatakan bahwa anak yang lahir dari ibu tunggal alias ibu yang memiliki anak tanpa suami yang sah kini ditanggung oleh perusahaan. *plok, plok, plok*

Sewaktu saya diangkat jadi karyawan tetap oleh perusahaan tempat saya bekerja beberapa tahun lalu, saya menanyakan kepada bagian SDM, “Mas, kalau saya ingin punya anak tapi saya tidak mau punya suami, apakah anak saya akan ditanggung perusahaan?” Waktu itu Si Mas bagian SDM terenyak, terdiam selama beberapa detik, berpikir keras, lalu menunduk membuka-buka buku peraturan perusahaan. Kemudian dia bilang, “Ini masih jadi wacana.... Tapi biasanya yang dianggap anak adalah anak yang hasil dari perkawinan yang sah antara suami dan istri.... blablabla.” Saya masih berkeras menyatakan bahwa anak yang lahir dari rahim saya dengan atau tanpa ayah yang sah adalah anak saya yang sah menurut hukum dan harus ditanggung oleh perusahaan, tapi saya mulai kasihan sama si Mas SDM karena dia mulai tampak bingung dan “menyesal” telah mengangkat saya menjadi karyawan, hahaha. Akhirnya saya biarkan topik itu tetap jadi wacana.

Bukannya saya niat jadi ibu tunggal dan ingin punya anak sendirian. Tidak juga. Namun, menurut saya ini adalah langkah perusahaan yang amat bijak mengingat semakin banyaknya perempuan yang memilih untuk tidak menikah meskipun mengetahui dirinya hamil. Buat saya pribadi, perempuan semacam itu adalah perempuan yang luar biasa, karena membesarkan anak adalah tugas tersulit bagi perempuan, mungkin lebih sulit dibanding melahirkan itu sendiri apalagi dilakukan tanpa bantuan sang ayah. Beberapa perempuan yang saya kenal dalam lingkup pekerjaan dan pertemanan adalah ibu tunggal, baik yang bercerai atau memilih untuk tidak menikah. Apa pun alasannya, tetap saya merasa salut pada mereka. Karena kalau saya ditanya apakah saya ingin hamil, melahirkan, dan punya anak, saya akan menjawab, “Tidak, terima kasih. Kucing saya saja sering lupa saya kasih makan.” :)

Kini menjadi ibu sudah menjadi pilihan bagi sejumlah perempuan. Polanya kini tidak lagi menikah (dengan laki-laki), hamil, lalu punya anak. Buat sebagian perempuan pernikahan kini tidak diperlukan lagi untuk menghasilkan anak. Perempuan-perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu tunggal jelas punya alasan sendiri untuk melakukannya. Sudah cukup sulit membesarkan anak di zaman sekarang apalagi sebagai ibu tunggal, tanpa perlu dipersulit dengan berbagai anggapan negatif tentang perempuan yang menjadi ibu tunggal.

Saya memiliki sahabat lesbian yang juga kebetulan ibu tunggal. Saya amat salut pada keberaniannya. Saya pribadi takkan punya gigi untuk melakukannya. Buat saya, menjadi ibu adalah tugas yang paling berat. Membahagiakan, ya. Tapi menjadi ibu adalah tugas yang berlangsung 24/7. Tidak ada pengurangan masa kerja, pensiun dini, kenaikan jabatan atau kenaian gaji. Saya lalu bertanya pada diri saya sendiri, seiring dengan jam biologis dalam diri saya yang berdetak makin cepat, apakah saya ingin meninggalkan jejak diri saya di dunia ini melalui anak yang saya lahirkan? Jujur, pernah ada satu-dua kali saya berpikir seperti itu, tapi mengingat kembali beban dan tanggung jawab mahabesar yang mengiringi “jabatan” sebagai Ibu, pikiran itu menghilang sebelum saya sempat mengedipkan mata.

Untungnya saya diberkahi dengan memiliki partner yang memiliki anak. Jadi saya bisa menjadi ibu secara instan tanpa perlu melalui proses melahirkan yang konon katanya menyakitkan seperti ketiban beton. Dan saya bisa terlibat langsung dalam hidup anak-anak “kami” itu bersama partner saya, sesuatu yang tadinya hanya bisa saya bayangkan. Saya tidak pernah tahu seperti apa sulitnya jadi ibu, dan well, kini saya terjun langsung ke dalam medan perang mendidik anak. Semua kesulitan dan kerepotan sebagai ibu yang sebelumnya cuma saya bayangkan benar-benar terjadi, ditambah 100 kali lipat. Kita seakan harus punya tangan seperti gurita, energi sekuat badak, kesigapan ala cheetah, dan kesabaran mahadewi. Namun, kesulitan 100 x lipat itu juga terbayar oleh kebahagiaan yang sama besarnya, hanya dengan senyum seorang anak yang berkata, “I love you, Tante Mami.”

2 comments:

Anonymous said...

numpang tanya nih....novel sarah waters yang diindonesiakan sudah ada belum? kalo udah, judulnya apa saja? di gramed ada gak? makasihh...

alex said...

hi, setauku sih novel sarah waters blm ada yg diterjemahkan ke bhs Indonesia.

kalo mau cari bahasa Inggrisnya di Kinokuniya PS. Byk tuh di sana.

Alex

Subscribe